
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran mengatakan kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan pelayaran melalui Selat Hormuz tinggal beberapa hari lagi, sebuah langkah yang berpotensi membuka jalur sementara yang lebih aman bagi kapal tanker dan kapal komersial di salah satu jalur energi terpenting dunia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pembicaraan telah memasuki tahap akhir dan hasilnya nantinya akan didokumentasikan bersama International Maritime Organization.
Kesepakatan tersebut akan mencakup pengaturan koridor pelayaran sementara melalui Hormuz, setelah berbulan-bulan gangguan akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Iran dan Oman sebelumnya telah mencapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran, tetapi sejumlah detail operasional masih dalam tahap finalisasi. Tehran berharap kesepakatan tersebut tidak mendapat campur tangan pihak ketiga.
Harga minyak langsung merespons kabar tersebut dengan memangkas kenaikan. Brent yang sebelumnya sempat menyentuh US$97,93 per barel turun kembali ke sekitar US$96,2–96,4, sementara WTI bergerak di sekitar US$91 per barel. Pasar menilai jalur pelayaran yang lebih aman berpotensi meningkatkan kembali lalu lintas tanker dan mengurangi risiko gangguan pasokan yang sebelumnya mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa pekan.
Namun, kesepakatan Iran–Oman juga berpotensi memicu ketegangan baru dengan Amerika Serikat. Washington menginginkan Selat Hormuz kembali beroperasi bebas seperti sebelum perang, sementara Iran berusaha memperkuat perannya dalam mengatur akses pelayaran melalui jalur tersebut. Iran juga berencana mengumumkan zona terbatas baru di kawasan Teluk dan koridor pelayaran internasional baru dalam beberapa hari mendatang.
Ketegangan di Hormuz sebelumnya meningkat tajam setelah AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, sementara Iran membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang dianggap menggunakan jalur tidak sah. Aktivitas pelayaran komoditas melalui selat tersebut turun menjadi rata-rata sekitar 10 kapal per hari dalam sepuluh hari terakhir, level terendah sejak Mei, menunjukkan bahwa risiko terhadap arus energi global masih tinggi.
Konflik yang kini memasuki bulan ketujuh telah mendorong kenaikan tajam harga minyak, bahan bakar, dan gas alam sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Meski ada harapan bahwa kesepakatan Iran–Oman dapat memperbaiki arus pelayaran, pasar masih menunggu apakah pengaturan tersebut dapat diterima oleh AS dan benar-benar menurunkan risiko serangan terhadap kapal komersial.
Analisa Newsmaker: kabar mengenai kesepakatan Iran–Oman menjadi faktor bearish jangka pendek bagi minyak karena mengurangi sebagian premi risiko Hormuz. Namun, selama Washington belum menerima mekanisme baru tersebut dan aksi militer AS–Iran masih berlangsung, penurunan harga minyak berpotensi tetap terbatas. Jika koridor aman benar-benar meningkatkan jumlah tanker yang melewati Hormuz, Brent dapat kehilangan sebagian premi geopolitiknya. Sebaliknya, kegagalan kesepakatan atau penolakan AS dapat kembali mendorong Brent menuju area US$98 hingga level psikologis US$100. (arl)
Sumber: Newsmaker.id