
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Amerika Serikat dan Iran menunjukkan tanda-tanda bersiap menghadapi konflik berkepanjangan, dengan sedikit indikasi tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat. Ketegangan yang terus berlangsung membuat arus energi Timur Tengah belum kembali normal dan menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
Iran menegaskan tidak akan mundur meski menghadapi tekanan ekonomi dari blokade dan sanksi Amerika Serikat. Teheran juga memberi sinyal siap meningkatkan serangan terhadap aset AS dan negara Teluk jika Washington memperluas operasi militernya. Di sisi lain, pejabat senior Gedung Putih disebut mulai mempertimbangkan kemungkinan konflik berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian setelah serangkaian serangan terhadap kapal dan tanker memperbesar risiko gangguan pasokan. Sebelum perang, jalur tersebut menangani sekitar seperlima arus minyak dan gas dunia, tetapi lalu lintas saat ini masih jauh di bawah kondisi normal. Brent bertahan di atas US$100 dan sempat bergerak sekitar US$102 per barel akibat meningkatnya premi risiko.
Ancaman juga meluas ke Laut Merah. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran berhasil menguasai Mocha di Yaman dan bergerak semakin dekat ke Bab al-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko bahwa dua chokepoint utama perdagangan energi dunia dapat menghadapi tekanan secara bersamaan.
Iran juga terus menampilkan kemampuan militernya sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya tawar terhadap Washington. Retorika balasan semakin keras, sementara AS mempertahankan tekanan ekonomi dan militernya. Kondisi tersebut membuat peluang deeskalasi cepat tetap rendah dan pasar harus bersiap menghadapi volatilitas berkepanjangan.
Analisa Newsmaker: konflik AS–Iran kini semakin terlihat sebagai risiko struktural bagi pasar energi, bukan sekadar gangguan sementara. Selama Hormuz tetap terbatas dan tekanan terhadap Bab al-Mandeb meningkat, harga minyak berpotensi bertahan tinggi. Dampaknya dapat menjalar ke inflasi global, yield obligasi, kebijakan suku bunga, serta meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dan dolar. (arl)
Sumber : Newsmaker.id