
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Amerika Serikat meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran dengan mendorong agar persoalan program nuklir Tehran dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Langkah tersebut diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan Dewan Gubernur International Atomic Energy Agency di Vienna pekan ini, setelah Iran dinilai terus membatasi akses inspektur nuklir internasional.
Washington bersama Inggris, Prancis, dan Jerman menyiapkan rancangan resolusi yang mendesak Iran segera memperbaiki ketidakpatuhannya terhadap kewajiban pengawasan nuklir dan memberikan akses yang cukup kepada IAEA. Badan tersebut belum dapat memverifikasi secara penuh lokasi maupun kondisi material nuklir Iran setelah akses ke sejumlah fasilitas dihentikan sejak serangan terhadap instalasi nuklir Iran pada 2025.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan kurangnya akses dan informasi mengenai material nuklir Iran menjadi persoalan serius bagi upaya pencegahan proliferasi. Salah satu perhatian utama adalah sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%, tingkat yang mendekati kategori weapons-grade, sementara inspektur juga belum memperoleh kembali akses ke sejumlah fasilitas penting seperti Fordow, Isfahan dan Natanz.
Tekanan diplomatik tersebut muncul ketika ketegangan militer antara Washington dan Tehran juga masih tinggi. Presiden AS Donald Trump pada 4 September mengatakan Amerika Serikat dapat segera menyerang Pickaxe Mountain, fasilitas bawah tanah yang sangat terlindungi di dekat kompleks pengayaan Natanz. Lokasi tersebut memiliki dua kompleks terowongan yang dalam dan belum dapat diverifikasi secara langsung oleh IAEA.
Potensi rujukan Iran ke Dewan Keamanan PBB dapat meningkatkan tekanan politik terhadap Tehran, tetapi peluang munculnya tindakan baru masih menghadapi hambatan. Rusia dan China diperkirakan tidak mendukung sanksi atau langkah keras tambahan terhadap Iran, sehingga perbedaan posisi di antara anggota tetap Dewan Keamanan dapat membatasi respons internasional.
Rancangan resolusi tersebut tetap menekankan dukungan terhadap penyelesaian diplomatik dan mendorong semua pihak kembali terlibat dalam negosiasi. Namun, kombinasi antara kebuntuan inspeksi nuklir, ancaman serangan baru AS, dan konflik militer yang belum berakhir membuat isu nuklir Iran kembali menjadi salah satu risiko geopolitik terbesar bagi pasar global.
Analisa Newsmaker: eskalasi isu nuklir Iran berpotensi kembali meningkatkan permintaan aset safe haven dan premi risiko energi jika pasar melihat kemungkinan konfrontasi militer baru. Tekanan diplomatik melalui IAEA belum tentu langsung menghasilkan sanksi baru karena posisi Rusia dan China, tetapi ancaman terhadap fasilitas nuklir seperti Pickaxe Mountain membuat risiko eskalasi tetap tinggi. Perkembangan ini dapat menjadi sentimen pendukung bagi emas dan minyak, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar global.(arl)
Sumber: Newsmaker.id