Nikkei Anjlok 2,45%, Saham Teknologi Tekan Bursa Jepang
Indeks Nikkei 225 ditutup turun tajam sekitar 2,45% pada perdagangan Selasa (18/08), dengan tekanan terbesar datang dari sektor kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi. Pelemahan ini membuat sentimen pasar Jepang memburuk setelah sebelumnya indeks sempat bergerak dekat level tinggi.
Tekanan paling besar terlihat pada sejumlah saham teknologi dan elektronik. Taiyo Yuden jatuh sekitar 11,5%, Murata Manufacturing turun sekitar 9,6%, sementara Kioxia Holdings melemah sekitar 7,6%. Koreksi tajam di saham-saham tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menyeret Nikkei lebih rendah.
Di sisi lain, saham pelayaran justru mencatat penguatan. Nippon Yusen naik sekitar 4,5% dan mencetak level tertinggi sepanjang masa, sementara Mitsui O.S.K. Lines menguat sekitar 3,8%. Nippon Steel juga naik lebih dari 3%, menunjukkan penguatan masih terjadi secara selektif di tengah tekanan pasar yang luas.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun jauh lebih banyak dibanding saham yang menguat di Bursa Tokyo. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual tidak hanya terkonsentrasi pada beberapa emiten besar, tetapi cukup menyebar di berbagai sektor.
Di pasar komoditas, harga minyak tetap tinggi dengan WTI berada di sekitar US$84,38 per barel dan Brent di sekitar US$91,33. Sementara kontrak berjangka emas Desember turun tipis ke kisaran US$4.454 per troy ons. Tingginya harga energi dan ketidakpastian geopolitik turut menjadi faktor yang meningkatkan kehati-hatian investor.
Analisis Newsmaker: Penurunan tajam Nikkei menunjukkan investor mulai mengurangi risiko, terutama pada saham teknologi yang sebelumnya mencatat kenaikan kuat. Selama harga minyak tetap tinggi, yield global bertahan tinggi, dan ketegangan Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap saham Jepang masih berpotensi berlanjut. Namun, penguatan saham pelayaran menunjukkan sektor yang diuntungkan dari kenaikan tarif angkut dan risiko geopolitik masih dapat menjadi penopang terbatas.(asd)
Sumber: Newsmaker.id