Saham Asia Mixed Pasca Pekan yang Bergejolak
Pasar saham Asia-Pasifik beragam pada hari Senin (10/3) setelah pekan perdagangan yang bergejolak di seluruh dunia.
Saham AS yang diperkirakan akan dibuka lebih rendah pada hari Senin telah mengalami pasang surut sejak awal bulan mengingat ketidakpastian seputar kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan inflasi negara adidaya tersebut.
Indeks S&P/ASX 200 Australia melonjak 0,34%, setelah ditutup pada level tertinggi enam bulan pada sesi sebelumnya.
Indeks Nikkei 225 memulai hari dengan datar sementara indeks Topix yang lebih luas turun tipis 0,1%. Pendapatan tunai negara tersebut naik 2,8% tahun-ke-tahun pada bulan Januari, melambat dari kenaikan 4,4% yang direvisi pada bulan Desember.
Indeks Kospi Korea Selatan dibuka 0,14% lebih rendah, sementara Kosdaq berkapitalisasi kecil turun 0,83%. Kontrak berjangka untuk indeks Hang Seng Hong Kong berada di angka 24.144 yang menunjukkan pembukaan yang lebih kuat dibandingkan dengan penutupan hari Jumat di angka 24.231,30.
Selama akhir pekan, inflasi konsumen Tiongkok turun di bawah nol untuk pertama kalinya dalam 13 bulan karena distorsi musiman dan tekanan deflasi. Indeks harga konsumen turun 0,7% pada bulan Februari dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya, data dari Biro Statistik Nasional mengungkapkan.
Raksasa Asia pada hari Sabtu juga mengumumkan tarif pembalasan atas beberapa barang pertanian Kanada setelah Ottawa mengenakan bea masuk atas kendaraan listrik buatan Tiongkok dan produk baja dan aluminium tahun lalu.
Beijing mengatakan tarif 100% akan dikenakan pada minyak lobak Kanada, bungkil minyak, dan kacang polong, sementara pungutan 25% akan dikenakan pada produk akuatik dan daging babi yang berasal dari Kanada.(yds)
Sumber: CNBC