Wall Street Melemah, Yield Tinggi Tekan Saham Teknologi
Bursa saham Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Selasa(18/8) dan memperpanjang tekanan dari sesi sebelumnya. S&P 500 turun sekitar 0,5%, Nasdaq merosot 1,6%, sementara Dow Jones terkoreksi sekitar 150 poin. Tekanan utama datang dari kenaikan biaya pinjaman yang membuat investor kembali berhati-hati terhadap saham dengan valuasi tinggi.
Yield Treasury AS tenor panjang terus bergerak naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran inflasi, besarnya penerbitan obligasi, serta meningkatnya kebutuhan pendanaan perusahaan yang berkaitan dengan ekspansi infrastruktur AI. Kondisi tersebut ikut mendorong pasar memperhitungkan premi risiko jangka panjang yang lebih tinggi.
Risiko inflasi juga meningkat seiring kenaikan harga energi. Sentimen memanas setelah AS memberi sinyal bahwa blokade terhadap ekspor minyak Iran dapat berlangsung lebih lama, sehingga pasar kembali memperhitungkan potensi gangguan pasokan dan tekanan harga energi yang lebih tinggi.
Saham-saham teknologi dan AI menjadi salah satu kelompok yang paling tertekan. Nvidia, Meta, Tesla, dan Oracle mencatat penurunan hingga sekitar 3%. Sektor keuangan juga melemah, dengan Goldman Sachs dan JPMorgan bergerak di zona merah karena kenaikan yield dan ketatnya kondisi kredit membebani sentimen.
Di sisi lain, Home Depot menjadi salah satu saham yang mampu bertahan positif setelah naik sekitar 1%. Penguatan tersebut didukung laporan laba yang melampaui ekspektasi, meskipun perusahaan masih menghadapi tekanan biaya yang tinggi.
Analisis Newsmaker: Wall Street saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi yield tinggi, risiko inflasi energi, dan valuasi saham teknologi yang sudah mahal. Selama yield Treasury masih bertahan di level tinggi, Nasdaq berpotensi tetap menjadi indeks yang paling sensitif. Namun, laporan keuangan yang kuat masih dapat memberikan penopang selektif bagi saham tertentu.(gn)
Sumber: Newsmaker.id