Nasdaq Melemah, Kekhawatiran AI Meningkat
Bursa saham global bergerak melemah pada perdagangan Jumat (26/6) setelah muncul laporan bahwa OpenAI sedang mempertimbangkan untuk menunda rencana penawaran umum perdana atau IPO. Kabar tersebut memperbesar tekanan pada saham teknologi, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap mahalnya biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan.
Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,7%, sementara Nasdaq Composite melemah 1,1%. Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 237 poin atau sekitar 0,5%. Tekanan paling besar datang dari saham-saham teknologi dan semikonduktor, setelah investor mulai mempertanyakan apakah belanja besar-besaran untuk AI masih dapat terus menopang valuasi sektor tersebut.
Laporan New York Times menyebut OpenAI mempertimbangkan untuk menunda IPO hingga tahun depan. Kabar ini muncul setelah performa SpaceX pascadebut dinilai kurang solid dan pasar saham AI mengalami volatilitas tinggi. Bagi investor, penundaan IPO OpenAI dapat menjadi sinyal bahwa pendanaan dari pasar modal untuk proyek-proyek AI besar mungkin tidak secepat yang sebelumnya diharapkan.
Trader JPMorgan menilai laporan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan belanja infrastruktur AI, terutama jika pendanaan dari pasar modal tertunda. Sementara itu, Adam Crisafulli dari Vital Knowledge mengatakan penundaan IPO OpenAI dapat memperlambat laju belanja infrastruktur, yang selama ini menjadi salah satu alasan utama reli saham chip dan data center.
Saham-saham semikonduktor ikut terpukul. Micron Technology turun 5%, meskipun sebelumnya sempat mendapat dorongan dari laporan kinerja yang kuat. Advanced Micro Devices melemah 4%, Intel turun 3%, sementara Oracle sebagai salah satu saham perangkat lunak yang memiliki eksposur terhadap infrastruktur AI juga turun lebih dari 1%.
Tekanan tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Aksi jual saham teknologi menyebar lebih kuat ke Asia. SoftBank Group, yang merupakan salah satu pendukung utama OpenAI, memimpin pelemahan regional dengan penurunan lebih dari 12%. Penurunan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor bahwa potensi realisasi keuntungan dari investasi OpenAI bisa tertunda jika IPO benar-benar mundur.
Pasar saham Korea Selatan juga mengalami tekanan tajam. Kospi anjlok 5,81% ke level 8.411,21, sementara Kosdaq turun 4,10% ke 851,37. Pelemahan tersebut dipicu oleh aksi jual luas pada saham teknologi dan chip, seiring kekhawatiran terhadap valuasi tinggi dan biaya infrastruktur AI yang terus membesar.
Di Jepang, Nikkei 225 turun 4,15%, sementara Topix melemah 1,32%. Hong Kong juga ikut tertekan dengan Hang Seng turun 1,76%, sedangkan CSI 300 China daratan melemah 3%. Di Eropa, sentimen serupa menekan pasar saham, dengan indeks pan-European Stoxx 600 turun sekitar 1%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investor mulai lebih selektif terhadap saham-saham yang sebelumnya mendapat dorongan kuat dari tema AI. Selama dua tahun terakhir, sektor teknologi dan semikonduktor menjadi motor utama reli pasar global. Namun, kekhawatiran terhadap biaya chip, kebutuhan data center, pembiayaan proyek AI, dan potensi penundaan IPO OpenAI membuat pasar mulai menilai ulang ekspektasi tersebut.
Meski tren AI belum sepenuhnya kehilangan daya tarik, volatilitas terbaru memberi sinyal bahwa euforia pasar mulai diuji. Jika kekhawatiran terhadap pendanaan dan biaya infrastruktur terus meningkat, tekanan pada saham teknologi berpotensi berlanjut. Sebaliknya, pasar membutuhkan bukti baru bahwa belanja AI dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang nyata dan berkelanjutan.(arl)
Sumber: Newsmaker.id