Deal Iran Gagal, Minyak Kembali Menguat
Harga minyak kembali naik pada perdagangan Senin (10/08) pagi setelah Iran dan Oman gagal mencapai kesepakatan final untuk membuka kembali Selat Hormuz. Brent menguat sekitar 0,8% dan diperdagangkan di atas US$84 per barel, sementara WTI naik 0,6% ke sekitar US$78,67 per barel.
Kenaikan minyak terjadi setelah Iran kembali menolak pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat dan mengajukan sejumlah tuntutan tambahan. Kondisi ini membuat pasar menilai peluang normalisasi arus minyak dan gas melalui Hormuz dalam waktu dekat masih kecil.
Di pasar saham, bursa Asia justru bergerak menguat setelah data tenaga kerja AS yang lemah mendorong Wall Street naik pada Jumat. S&P 500 bahkan mencetak rekor baru karena investor menilai pelemahan tenaga kerja dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 43%, dari sekitar 64% sepekan sebelumnya. Yield obligasi AS ikut turun dan dolar melemah, memberikan dukungan bagi saham Asia dan sebagian mata uang kawasan.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada data inflasi AS pekan ini. Jika inflasi ikut melandai, tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga dapat semakin berkurang. Namun, kenaikan harga minyak akibat ketegangan Hormuz tetap menjadi risiko karena dapat kembali mendorong inflasi energi.
Analisis Newsmaker: Market saat ini mendapat dua sentimen yang berlawanan. NFP yang lemah mendukung saham dan emas melalui turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga, tetapi kegagalan deal Hormuz menjaga minyak tetap tinggi. Jika konflik berlanjut, Brent berpeluang bertahan di atas US$80 dan risiko inflasi dapat kembali menekan sentimen pasar.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id