Emas Bertahan Kuat, CPI AS Jadi Penentu Arah Berikutnya
Harga emas bertahan kuat pada perdagangan Senin (10/8), meski kesulitan melanjutkan kenaikan setelah reli tajam pada pekan lalu. XAU/USD bergerak di sekitar US$4.345 per troy ounce, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di US$4.362.
Pada pekan sebelumnya, emas menguat lebih dari 7% dan naik ke level tertinggi sejak 17 Juni. Penguatan tersebut didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed setelah data Nonfarm Payrolls AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga peluang kenaikan suku bunga mulai menurun.
Sentimen emas juga mendapat dukungan dari meredanya kekhawatiran inflasi energi. Iran dan Oman dilaporkan semakin dekat untuk menyelesaikan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak turun dan mengurangi tekanan inflasi dari sektor energi.
Meski begitu, pelemahan dolar AS dan yield Treasury masih terbatas karena harga minyak tetap berada di atas level sebelum perang. Indeks dolar AS atau DXY mencoba bertahan di sekitar 99,70, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bergerak dekat 4,67%, turun dari puncak terbaru di sekitar 4,74%.
Dari sisi dampak market, emas masih berpeluang bertahan di area tinggi selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus mereda. Namun, fokus utama kini tertuju pada data CPI AS pada Rabu dan PPI pada Kamis. Jika inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, emas berpotensi lanjut menguat karena dolar bisa kembali tertekan. Sebaliknya, jika CPI lebih panas, XAU/USD rawan terkoreksi karena pasar bisa kembali memperhitungkan peluang kebijakan The Fed yang lebih hawkish. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id