Minyak Naik 3%, Iran Tahan Harapan Pembukaan Hormuz
Harga minyak naik sekitar 3% pada perdagangan Senin (10/8), setelah Iran meredam harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Brent crude menguat US$2,48 atau 3% ke US$86,03 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI naik US$2,43 atau 3,1% ke US$80,61 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Iran menyatakan Amerika Serikat harus mencabut sanksi, membayar kompensasi, dan memenuhi sejumlah syarat lain sebelum Selat Hormuz kembali dibuka. Pernyataan tersebut membuat pasar menilai proses normalisasi jalur energi utama dunia itu masih jauh dari selesai.
Sebelumnya, Brent dan WTI sempat turun lebih dari 7% pada pekan lalu karena optimisme bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Iran menegaskan bahwa meski kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran baru hampir final, pembukaan penuh tetap bergantung pada sikap Washington.
Risiko pasokan juga bertambah setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang Saudi Aramco di Jazan. Selain itu, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia, termasuk kilang Taneco dan fasilitas petrokimia ZapSibNeftekhim, semakin menambah kekhawatiran terhadap pasokan global.
Dari sisi dampak market, harga minyak berpotensi tetap ditopang selama pembukaan Hormuz belum jelas dan risiko serangan terhadap fasilitas energi masih tinggi. Jika tuntutan Iran membuat kesepakatan tertunda, Brent dan WTI bisa mempertahankan premi risiko geopolitik. Kondisi ini juga dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi, menahan optimisme pasar saham, dan membuat arah kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id