Dolar Bangkit, Hormuz Kembali Jadi Pemicu
Dolar AS kembali menguat pada perdagangan Senin (10/8) setelah mengalami penurunan selama dua pekan berturut-turut. Indeks dolar naik sekitar 0,3% ke level 99,82, didukung permintaan aset aman setelah harga minyak kembali melonjak dan ketegangan Timur Tengah meningkat.
Harga minyak naik hampir 5% setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Teheran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz baru dapat dibuka penuh jika Washington mencabut blokade laut, menghapus sanksi, dan memberikan kompensasi atas kerugian perang.
Ketidakpastian bertambah setelah Iran menyebut rancangan pengelolaan Hormuz dapat membatasi kapal AS, Israel, dan negara yang dianggap bermusuhan. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi juga membuat investor kembali mencari perlindungan melalui dolar.
Di sisi lain, data tenaga kerja AS yang lemah masih membatasi kenaikan dolar. NFP Juli turun untuk pertama kalinya sejak Februari, sementara data Mei dan Juni direvisi turun total 103 ribu pekerjaan. Kondisi ini membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan. USD/JPY naik sekitar 0,9% ke 159,26, membuat yen kehilangan sebagian penguatan setelah intervensi besar pada Juli. Euro juga turun tipis ke 1,1541, sementara poundsterling bertahan lebih kuat di sekitar 1,3507.
Analisis Newsmaker: Dolar mendapat dukungan dari dua arah yang berlawanan: permintaan aset aman akibat ketegangan Hormuz, tetapi dibatasi data tenaga kerja AS yang lemah. Fokus berikutnya tertuju pada CPI AS. Inflasi yang tinggi dapat mendorong DXY kembali menembus 100, sedangkan data yang melandai berpotensi menekan dolar dan mendukung emas serta mata uang utama lainnya.(yds)
Source: Newsmaker.id