Wall Street Melemah Pasca Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Saham AS ditutup melemah pasca Federal Reserve mempertahankan suku bunga, tetapi memberi sinyal bahwa kenaikan masih mungkin terjadi tahun ini. S&P 500 turun 1,2%, Nasdaq 100 melemah 1%, sementara Dow Jones kehilangan 507 poin dari rekor tertingginya.
Tekanan muncul setelah Summary of Economic Projections dari pertemuan Juni menunjukkan separuh anggota FOMC memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga atau lebih pada tahun ini. Proyeksi tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed belum melihat inflasi sebagai risiko yang sepenuhnya terkendali.
Data inflasi dasar yang mengarah pada kenaikan harga dan pasar tenaga kerja yang masih kuat menjadi alasan utama sikap hati-hati bank sentral. Meski ekonomi menghadapi tekanan dari perang Iran, kondisi tenaga kerja yang solid memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Ketua Fed Kevin Warsh tidak memasukkan dot dalam proyeksi suku bunga, mencerminkan niatnya untuk mengubah kerangka komunikasi moneter bank sentral. Sikap ini membuat pasar menilai arah kebijakan The Fed dapat menjadi kurang bergantung pada panduan eksplisit dan lebih responsif terhadap data.
Aset berisiko mendapat tekanan karena selloff di pasar Treasury mendorong yield lebih tinggi. Dalam transmisi pasar, yield yang naik meningkatkan biaya diskonto terhadap valuasi saham, terutama pada sektor teknologi besar yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga.
Saham Magnificent Seven memimpin pelemahan. Meta turun 4,2%, Microsoft melemah 3,6%, Alphabet terkoreksi 2,4%, dan Amazon turun 3,1%. Tekanan ini menunjukkan investor kembali mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi besar setelah sinyal Fed dinilai lebih hawkish.
Berbeda dengan teknologi besar, saham chip masih melanjutkan reli. Micron naik 2,2%, Marvell menguat 3,9%, dan Intel bertambah 3,5%. Pergerakan ini memperlihatkan rotasi selektif di sektor teknologi, dengan minat beli masih bertahan pada sebagian saham semikonduktor.
Sementara itu, AS dan Iran tetap berada di jalur untuk menandatangani kesepakatan mereka. Namun, sentimen geopolitik tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari prospek suku bunga AS. Fokus pasar berikutnya tertuju pada arah yield Treasury, komunikasi lanjutan Warsh, dan apakah data inflasi mendatang memperkuat peluang kenaikan suku bunga tahun ini.(yds)
Sumber: Newsmaker.id