Bursa Asia Melemah, Pasar Waspada Menjelang Berakhirnya Gencatan Senjata Iran
Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada Jumat, saat optimisme hati-hati terhadap perkembangan konflik Timur Tengah belum cukup menutupi kekhawatiran bahwa gencatan senjata masih rapuh. Sentimen Asia bergerak berbeda dari Wall Street yang kembali mencetak rekor, karena pelaku pasar menilai risiko geopolitik dan energi masih bisa memicu volatilitas.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata 10 hari yang mulai berlaku pukul 17.00 ET. Ketua parlemen Iran sebelumnya menyebut penghentian serangan Israel ke Lebanon menjadi syarat penting agar negosiasi AS–Iran dapat dimulai. Trump juga mengatakan putaran berikutnya pembicaraan tatap muka AS–Iran kemungkinan terjadi “mungkin akhir pekan depan,” sementara gencatan senjata AS–Iran saat ini dijadwalkan berakhir pada 21 April.
Di pasar energi, minyak turun dan mengurangi dukungan sentimen risiko. WTI melemah 1,43% ke US$93,34 per barel, sedangkan Brent turun 1,14% ke US$98,28 per barel, menandai pasar masih sensitif terhadap potensi perubahan arus pasokan di tengah dinamika Selat Hormuz.
Dari Jepang, pemerintah menyoroti dampak volatilitas minyak ke pasar valas. Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) akan membuka “investment window” hingga 600 miliar yen untuk membantu negara-negara Asia mengamankan pasokan energi, dan menambahkan bahwa volatilitas minyak telah mempengaruhi pasar nilai tukar. Investor juga mencermati komentar Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda yang menegaskan bank sentral perlu memperhitungkan rendahnya suku bunga riil Jepang dalam penentuan kebijakan.
Pergerakan indeks Asia menunjukkan koreksi setelah reli sebelumnya. Nikkei 225 turun 0,7% setelah mencetak rekor pada Kamis, sementara Topix turun 0,62%. Kospi Korea Selatan melemah 0,43% dan Kosdaq turun 0,35%, sedangkan ASX 200 Australia turun 0,28%. Kontrak berjangka Hang Seng berada di 26.229 dibanding penutupan terakhir 26.394,26. Sementara itu di AS, S&P 500 naik 0,26% ke 7.041,28 dan Nasdaq naik 0,36% ke 24.102,70, dengan Nasdaq mencatat 12 sesi naik beruntun—terpanjang sejak 2009—menjaga fokus pasar global pada apakah risk-on dapat bertahan ketika isu gencatan senjata memasuki fase krusial pekan depan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id