Indeks Hang Seng Tertekan, Sanksi AS dan Alibaba Jadi Beban
Saham Hong Kong kembali melemah pada Kamis (11/6) setelah sentimen pasar tertekan oleh kombinasi sanksi baru AS terhadap entitas terkait China dan Hong Kong, eskalasi konflik Timur Tengah, serta tekanan regulasi terhadap perusahaan e-commerce besar.
Hang Seng Index turun 0,7% atau 158,67 poin ke 24.249,29. Sementara itu, Hang Seng China Enterprises Index melemah lebih dalam, turun 1,2% atau 101,65 poin ke 8.217,08. Pelemahan ini menunjukkan investor masih mengurangi eksposur ke saham China dan Hong Kong di tengah risiko geopolitik yang meningkat.
Tekanan eksternal datang dari keputusan pemerintah AS yang menjatuhkan sanksi terhadap 11 individu dan entitas karena diduga mendukung pengadaan senjata bagi militer Iran dan Islamic Revolutionary Guard Corps. Dari daftar tersebut, sembilan pihak berbasis di China dan Hong Kong, sementara satu perusahaan Hong Kong disebut beroperasi dalam jaringan perbankan rahasia Iran.
Sentimen makin rapuh setelah AS kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Teheran kemudian mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi global. Risiko ini membuat investor lebih berhati-hati karena gangguan energi dapat mendorong harga minyak, meningkatkan tekanan inflasi, dan membebani aset berisiko.
Dari sisi korporasi, saham e-commerce menjadi pemberat utama. Alibaba turun lebih dari 5% setelah regulator Beijing memanggil sejumlah platform besar terkait dugaan promosi menyesatkan dalam festival belanja tahunan 618. JD.com juga melemah hampir 3% setelah ikut disebut sebagai salah satu platform yang dipanggil regulator.
Untuk pasar Hong Kong, tekanan saat ini datang dari tiga arah sekaligus: risiko sanksi AS, ketegangan Timur Tengah, dan pengawasan regulasi domestik terhadap sektor teknologi. Selama faktor-faktor ini belum mereda, Hang Seng berpotensi tetap bergerak defensif, meski saham-saham besar tertentu masih bisa menjadi penahan penurunan indeks.(yds)
Source: Newsmaker.id