Minyak Berbalik Turun, Pasar Lihat Peluang Damai AS–Iran
Harga minyak berbalik melemah pada Kamis (11/6) setelah laporan menyebut Amerika Serikat dan Iran tetap melanjutkan pembicaraan damai, meski kedua negara baru saja terlibat saling serang. Kabar ini meredakan sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik pada sesi Asia.
Pada pukul 04.43 waktu timur AS, Brent kontrak Agustus turun 1,4% ke US$91,76/barel, sementara WTI melemah 1,3% ke US$88,88/barel. Sebelumnya, kedua acuan minyak sempat naik lebih dari 2% pada perdagangan Asia dan ditutup hampir 2% lebih tinggi pada sesi sebelumnya.
Laporan CNN menyebut AS dan Iran masih melanjutkan negosiasi terkait potensi kesepakatan damai. Reuters juga melaporkan kedua pihak membahas kesepakatan awal yang mencakup mekanisme pencairan dana Iran yang dibekukan. Sinyal diplomasi ini membuat pasar menilai risiko gangguan pasokan bisa sedikit berkurang, meski situasinya tetap rapuh.
Ketidakpastian masih besar karena Presiden Donald Trump tetap mengancam tindakan lanjutan jika Iran tidak segera menerima kesepakatan. AS sebelumnya menyerang sejumlah target militer Iran dan menyebutnya sebagai aksi “self-defense” setelah jatuhnya helikopter Amerika di dekat Selat Hormuz. Iran kemudian dilaporkan membalas dengan serangan ke beberapa basis militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat risiko pasar energi. Iran mengklaim telah memblokir seluruh lalu lintas kapal di jalur tersebut, tetapi CENTCOM membantah klaim itu. Jika arus kapal benar-benar terganggu, pasokan minyak global bisa kembali mengetat. Namun selama kapal masih dapat melintas dan diplomasi berjalan, kenaikan harga minyak berpotensi tertahan.
Dari sisi fundamental, data AS masih menunjukkan pasokan ketat. EIA melaporkan stok minyak mentah turun 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni, jauh lebih besar dari ekspektasi sekitar 3 juta barel. Pasar juga menunggu data PPI AS dan klaim pengangguran mingguan untuk melihat apakah kenaikan biaya energi mulai memperkuat tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan The Fed.(yds)
Sumber: Newsmaker.id