Yen Menguat, Level 160 Jadi Zona Bahaya
USD/JPY melemah pada perdagangan Rabu (19/8) seiring dolar AS kehilangan momentum dan kembali mendekati level terendah Juni yang sempat disentuh pada awal pekan. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 159,10, turun sekitar 0,32% dalam sehari.
Yen Jepang tampil lebih kuat dibanding sebagian besar mata uang utama. Dukungan datang dari meningkatnya risiko intervensi valuta asing serta ekspektasi bahwa Bank of Japan masih mempertahankan kecenderungan hawkish. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam membangun posisi jual besar terhadap yen.
Dari sisi Amerika Serikat, dolar masih tertekan oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Sejumlah data ekonomi AS yang lebih lunak telah menurunkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Indeks Dolar turun sekitar 0,23% ke area 99,40, mencerminkan tekanan yang masih membayangi greenback.
Meski demikian, risiko inflasi belum sepenuhnya mereda. Harga minyak yang tetap tinggi akibat kebuntuan AS-Iran dan terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi kembali mendorong tekanan harga. Jika inflasi kembali meningkat, peluang The Fed mempertimbangkan pengetatan tambahan masih tetap terbuka.
Perhatian pasar kini tertuju pada FOMC Minutes Juli yang dijadwalkan dirilis pukul 18:00 GMT. Investor akan mencari petunjuk mengenai seberapa kuat kubu hawkish di dalam The Fed dan apakah risiko inflasi energi masih cukup besar untuk mempertahankan opsi kenaikan suku bunga.
Analisis Newsmaker: USD/JPY masih memiliki tekanan turun jangka pendek selama dolar AS melemah dan ancaman intervensi Jepang tetap tinggi. Area psikologis 160 menjadi batas penting di sisi atas, sementara penurunan di bawah 159,00 dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut. Namun, yen masih menghadapi tekanan struktural dari tingginya harga minyak, kekhawatiran fiskal Jepang, dan selisih suku bunga yang masih lebar. FOMC Minutes berpotensi menjadi pemicu utama arah berikutnya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id