Pasokan Terancam, Brent Cetak Level Tertinggi 3 Pekan
Harga minyak menguat pada perdagangan Rabu (19/8) dan menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan. Brent naik sekitar 0,59% ke US$91,56 per barel, sementara WTI menguat 0,69% ke US$85,53. Brent mencapai level tertinggi sejak 30 Juli, sedangkan WTI berada di posisi tertinggi sejak 31 Juli.
Penguatan minyak masih didorong ketidakpastian mengenai aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan jalur tersebut telah terbuka dan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran. Namun, Teheran memberikan pernyataan berbeda dengan menegaskan Hormuz masih ditutup.
Ketegangan meningkat setelah kesepakatan gencatan senjata sementara berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya mulai bergerak menuju sikap militer yang “sepenuhnya ofensif” akibat kebuntuan diplomatik, meskipun belum ada laporan serangan baru dari kedua pihak pada Selasa.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena sebelum konflik dimulai, jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global. Data pelayaran terbaru menunjukkan aktivitas kapal kembali melambat karena banyak pemilik kapal memilih menghindari kawasan tersebut, sehingga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.
Di sisi lain, Irak mulai mempersiapkan mekanisme ekspor alternatif melalui perusahaan internasional dan lokal serta beberapa jalur pengiriman. Skema tersebut akan berlangsung selama tiga bulan mulai 1 September. Sementara itu, pasokan dari Rusia juga mengalami tekanan setelah pengiriman melalui pelabuhan barat turun menjadi sekitar 2,3 juta barel per hari pada paruh pertama Agustus, sekitar 15% di bawah rencana awal akibat gangguan di Pelabuhan Novorossiysk.
Analisis Newsmaker: kenaikan Brent di atas US$91 menunjukkan pasar mulai memasukkan risk premium geopolitik yang lebih besar ke dalam harga. Selama ketidakpastian Hormuz dan gangguan pasokan Rusia belum mereda, bias minyak masih cenderung bullish. Jika Brent mampu bertahan di atas US$91–US$92, peluang menuju US$95 semakin terbuka, bahkan level tiga digit dapat kembali menjadi perhatian jika konflik memburuk. Namun, normalisasi pelayaran Hormuz atau peningkatan ekspor alternatif berpotensi memicu profit taking setelah reli beberapa sesi terakhir. (arl)
Sumber : Newsmaker.id