Bias Bullish Dolar Menguat saat Iran Eskalasi Serangan
Dolar AS menuju penutupan terkuatnya dalam hampir dua bulan seiring harga minyak naik dan pasar kembali menilai konflik Timur Tengah akan berlangsung lebih lama. Penguatan minyak memperkuat kekhawatiran inflasi energi dan mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset likuid di tengah situasi risk-off.
Indeks Bloomberg Dollar Spot sempat naik sekitar 0,3% sebelum memangkas sebagian penguatan. Sementara yield Treasury AS 10 tahun relatif stabil di sekitar 4,23%, menandakan dorongan dolar kali ini lebih banyak datang dari faktor geopolitik dan arus defensif dibanding perubahan tajam di pasar obligasi.
Di pasar opsi, sentimen bullish terhadap dolar kian tegas. One-month risk reversals naik ke sekitar 93 basis poin, level tertinggi sejak akhir 2022, mengindikasikan meningkatnya permintaan proteksi/posisi untuk penguatan dolar dalam horizon jangka pendek.
Pemicu utama risk-off hari ini datang dari energi. Brent kembali melonjak di atas $100 per barel setelah Oman mengosongkan semua kapal dari terminal ekspor minyak utamanya dan dua tanker diserang di perairan Irak. Iran juga disebut meningkatkan serangan yang menyasar area Dubai dan aset pelayaran, menambah kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan dan logistik dapat meluas.
Untuk USD/JPY, pasangan ini relatif stabil di sekitar 158,90 setelah sempat menyentuh puncak dua bulan di 159,24. Pasar opsi dan para strategis menilai ambang intervensi Jepang kini lebih tinggi, sehingga yen rentan tertekan lebih lama sebelum pemerintah benar-benar turun tangan.
Di Eropa, EUR/USD turun untuk hari ketiga dan diperdagangkan di sekitar 1,1548, meski sempat memangkas penurunan intraday. Euro mengarah ke rangkaian pelemahan terpanjang dalam empat minggu karena outlook teknikal dan posisi opsi semakin memburuk.
Dari sisi kebijakan perdagangan, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengumumkan kantornya akan memulai investigasi terhadap lebih dari selusin ekonomi besar termasuk China dan Uni Eropa menggunakan Section 301, dengan fokus pada dugaan kapasitas manufaktur yang berlebihan. Langkah ini menambah lapisan risiko baru bagi sentimen global dan berpotensi mendukung dolar sebagai safe haven.
GBP/USD sempat turun sekitar 0,4% ke 1,3361 sebelum memangkas kerugian. One-week risk reversals melebar ke sekitar 135 bps memihak dolar, menandakan pasar opsi makin defensif terhadap pound.
Menambah sorotan, ekonom Goldman Sachs mundur ekspektasi waktu pemangkasan suku bunga berikutnya oleh Bank of England menjadi Juli dari April, dengan alasan shock energi akibat perang Iran dapat menahan pelonggaran kebijakan lebih cepat.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id