Emas Turun Seiring Penguatan USD Ditengah Harapan De-eskalasi Iran
Harga emas melemah pada Rabu (11/3) seiring penguatan dolar AS, sementara perhatian pasar tetap tertuju pada perang Iran yang memasuki hari ke-12 tanpa tanda de-eskalasi.
Spot gold turun 0,4% ke US$5.173,60 per ons pada 15:11 waktu AS, sedangkan kontrak berjangka emas turun 1,2% ke US$5.180,36.
Pergerakan emas masih berfluktuasi tajam setelah sempat jatuh dari rekor mendekati US$5.600 pada akhir Januari. Narasi perang yang berubah cepat turut memicu perdagangan “whipsaw” pekan ini: Trump sempat menyatakan konflik mendekati akhir, namun serangan antara AS, Israel, dan Iran berlanjut hingga Rabu.
Di sisi makro, data pemerintah AS menunjukkan inflasi konsumen Februari tetap moderat. CPI tahunan tercatat 2,4% (y/y), sementara inflasi bulanan 0,3% (m/m)—keduanya sesuai proyeksi. CPI inti berada di 2,5% (y/y) dan 0,2% (m/m), juga sejalan ekspektasi, meski harga energi dan pangan meningkat.
Namun pasar menilai data CPI belum sepenuhnya menangkap dampak konflik Iran yang dimulai akhir Februari. Lonjakan energi berisiko mengerek inflasi ke depan dan mendorong sikap bank sentral global lebih hawkish—skenario yang dapat menopang dolar dan membatasi ruang kenaikan emas.
Fokus berikutnya adalah rilis core PCE Januari yang diperkirakan 3,1% (y/y) dan 0,4% (m/m), indikator inflasi yang kerap menjadi acuan utama The Fed dan dinilai lebih “panas” dibanding CPI.(yds)
Sumber: Newsmaker.id