Brent Sempat Tembus $100 saat Dampak Konflik Iran Kian Dalam
Harga minyak Brent sempat kembali menembus US$100 per barel setelah perang Iran memicu kekacauan baru pada jalur pengiriman di Timur Tengah, sementara China memperketat pembatasan ekspor bahan bakar untuk menghadapi dampak konflik. Lonjakan ini menegaskan bahwa pasar kini lebih fokus pada risiko pasokan fisik dan keselamatan pelayaran dibanding “rem” sementara dari rilis cadangan darurat.
Minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga sekitar 10% ke US$101,59 per barel, sedangkan WTI naik mendekati US$96, sebelum memangkas sebagian kenaikan. Ketegangan meningkat setelah dua tanker diserang di perairan Irak dan Oman sempat mengosongkan kapal-kapal dari terminal ekspor utamanya di luar Selat Hormuz. Serangkaian insiden ini menyoroti ancaman pasokan yang melebar, sekaligus menutupi efek rilis cadangan rekor yang ditujukan untuk menahan harga.
International Energy Agency (IEA) pada Kamis memperingatkan bahwa gangguan pasokan saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global, selaras dengan beberapa hari pergerakan harga yang sangat liar. Ayunan harga juga diperparah oleh arus transaksi finansial—mulai dari opsi hingga ETF—yang ikut memperbesar volatilitas ketika headline berubah cepat.
Tanda-tanda pengetatan juga muncul dari China. Sejumlah kilang dilaporkan mulai membatalkan pengiriman ekspor produk olahan yang sudah disepakati, termasuk bensin dan diesel. Pengolah terbesar China disebut sudah diminta pekan lalu untuk menghentikan penandatanganan kontrak baru, dan arahan terbaru ini dinilai lebih ketat dibanding pedoman sebelumnya.
Di tengah itu semua, Selat Hormuz—jalur yang biasanya membawa sekitar seperlima aliran minyak dunia—masih efektif tertutup. Kondisi ini memaksa produsen utama Teluk memangkas output, sementara harga gas alam dan produk seperti diesel ikut melonjak. Setelah Brent dan WTI sempat mendekati US$120 pada Senin lalu sebelum terkoreksi, pasar kembali mengalami “whiplash” atau ayunan tajam sepanjang pekan ini.
Goldman Sachs memperingatkan harga minyak bisa melampaui puncak 2008 jika arus melalui Hormuz tetap tertekan hingga Maret. Brent pernah mencapai sekitar US$147,50 pada 2008, didorong permintaan tinggi dan pasokan yang stagnan. Intinya, jika jalur pengiriman tak pulih, tekanan pasokan bisa memaksa harga bergerak ke rezim yang lebih tinggi.
Sejumlah analis menilai kunci penurunan harga minyak tetap ada pada normalisasi Hormuz. Neil Beveridge dari Sanford C. Bernstein menegaskan satu-satunya faktor yang benar-benar bisa menurunkan harga adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurutnya, laju aliran dari cadangan strategis “tidak sebanding” dengan gangguan sekitar 20 juta barel per hari akibat penutupan selat—sehingga rilis cadangan hanya menjadi penahan sementara, bukan solusi struktural.
Dari sisi operasional, Irak sempat menghentikan aktivitas terminal minyaknya setelah tanker diserang, sementara Oman mengevakuasi kapal-kapal dari Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan—terminal yang disebut menjadi salah satu dari sedikit pelabuhan tersisa untuk menyalurkan crude Timur Tengah ke pasar global. Operasi kemudian dilaporkan kembali normal, tetapi insiden ini menambah premi risiko pelayaran.
Pemangkasan output sudah terjadi bertahap sejak Hormuz nyaris tertutup, dimulai dari Irak dan kemudian diikuti Kuwait serta Arab Saudi. Tekanan inilah yang memaksa IEA mengumumkan rilis terkoordinasi 400 juta barel, dan AS juga menyatakan rencana melepas 172 juta barel. Namun pasar menilai dampaknya masih kalah oleh realitas perang: konsumsi crude global sedikit di atas 100 juta barel per hari, sementara produsen Teluk sejauh ini sudah memangkas sekitar 6% dari total itu—dan potensi pemangkasan lanjutan masih terbuka.
Sebagian pelaku pasar bahkan menilai rilis IEA berisiko mengirim sinyal yang keliru. Ada kekhawatiran pasar “membaca” bahwa otoritas tahu sesuatu yang lebih buruk, karena setelah pengumuman rilis, harga justru kembali naik. Sentimen ini memperkuat tema utama minggu ini: pasar tak hanya menilai pasokan, tapi juga keamanan pelayaran dan ketidakpastian durasi perang.
Di sisi diplomasi, Iran disebut menyampaikan kepada perantara regional bahwa gencatan senjata mensyaratkan AS menjamin bahwa Washington maupun Israel tidak akan menyerang Iran di masa depan—syarat yang dinilai kecil kemungkinan diterima. Presiden Donald Trump kembali mengatakan perang akan segera berakhir, namun juga mengisyaratkan AS akan bertahan selama diperlukan untuk menyelesaikan tujuannya.
Pada perdagangan terbaru di London, Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 6,4% ke US$97,90 per barel, sementara WTI untuk April menguat sekitar 6,1% ke US$92,60 per barel—menggambarkan bahwa pasar masih menempel ketat pada headline Hormuz dan risiko pasokan, meski rilis cadangan darurat sudah digelontorkan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id