Minyak Menguat, Ketakutan Inflasi Energi Balik Menguat
Harga minyak menguat untuk hari kedua setelah sesi yang kembali volatil, seiring retorika yang makin keras terkait perang Iran meningkatkan kekhawatiran konflik akan berkepanjangan. Kecemasan itu dinilai lebih dominan dibanding langkah negara-negara maju yang melakukan rilis cadangan darurat minyak untuk menahan harga.
Kontrak WTI sempat naik tajam setelah menguat kuat pada sesi sebelumnya. Dari sisi diplomasi, Iran menyampaikan kepada perantara regional bahwa gencatan senjata hanya mungkin jika AS memberikan jaminan bahwa Washington maupun Israel tidak akan menyerang Iran lagi di masa depan. Namun pasar menilai syarat tersebut kecil kemungkinan diterima AS, sehingga ekspektasi berakhirnya perang dalam waktu dekat makin menipis.
Meski begitu, kenaikan minyak sempat mereda setelah AS mengumumkan rencana melepas 172 juta barel sebagai bagian dari upaya global menstabilkan harga—jumlah yang disebut hampir setengah dari kepemilikan cadangan strategis AS saat ini. Sehari sebelumnya, minyak juga sempat terkoreksi singkat setelah IEA menyepakati rilis darurat 400 juta barel, jauh melampaui pelepasan cadangan pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Namun akar masalah pasar belum berubah: Selat Hormuz masih efektif tertutup untuk pelayaran komersial, dan investor memantau ketat tanda-tanda apakah arus perdagangan bisa kembali normal. Tiga kapal dilaporkan terkena proyektil yang diduga terkait serangan di selat sempit tersebut dan Teluk Persia, mempertegas risiko keamanan bagi pengiriman.
Nyaris tertutupnya Hormuz—jalur yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima minyak dunia—mendorong produsen Teluk memangkas produksi dan mengangkat harga minyak, gas alam, serta produk olahan seperti diesel. Dampak perang yang memasuki pekan kedua ikut membangkitkan kekhawatiran krisis inflasi energi secara global.
Westpac menilai bila konflik belum menunjukkan arah penyelesaian dan shut-in produksi terus bertambah, Brent berpotensi bergerak dalam “range baru” yang lebih tinggi dalam waktu dekat. Di sisi kebijakan, sejumlah negara mulai merinci kontribusi rilis cadangan darurat: Jepang disebut menyiapkan pelepasan besar dari stok strategisnya, Inggris dan Korea Selatan juga menyiapkan porsi masing-masing, sementara Kanada meminta perusahaan minyak untuk ikut melepas sebagian cadangan.
Pasar tampak “menerima” rilis cadangan sebagai penahan laju, tetapi belum cukup untuk menghapus premi risiko selama perang berlanjut dan Hormuz belum pulih. Di sisi politik, Presiden Donald Trump kembali menyatakan perang bisa segera berakhir, namun juga memberi sinyal AS akan bertahan sampai targetnya tercapai—membuat narasi de-eskalasi tetap belum jelas.
Pada perdagangan Asia hari Kamis (12/3), WTI April menguat dan berada di sekitar area $91-an, sementara Brent Mei sebelumnya ditutup menguat kuat di sekitar $92-an. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id