IEA Sepakati Rilis 400 Juta Barel Guna Redam Gangguan Pasokan
Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak untuk merespons gangguan pasokan yang dipicu perang Iran—langkah darurat terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Namun IEA tidak menetapkan jadwal pasti kapan minyak itu akan masuk ke pasar, dan menyatakan pelepasan akan dilakukan sesuai kondisi dan kesiapan masing-masing dari 32 negara anggota.
Anggota IEA mayoritas berasal dari negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Organisasi ini bertugas menjaga keamanan energi global, dan dibentuk pada 1974 sebagai respons atas embargo minyak oleh produsen Arab terkait dukungan AS kepada Israel pada perang Arab–Israel 1973.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan konflik Timur Tengah telah menimbulkan dampak besar pada pasar minyak dan gas global—dengan implikasi luas terhadap keamanan energi, keterjangkauan energi, dan ekonomi dunia. Birol menegaskan negara-negara anggota IEA secara bulat menyetujui pelepasan cadangan darurat terbesar sepanjang sejarah lembaga itu.
Fatih Birol menyebut negara anggota IEA saat ini menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan darurat publik, ditambah sekitar 600 juta barel stok industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah. Menurutnya, pelepasan ini dirancang untuk menahan dampak langsung gangguan pasokan—namun untuk benar-benar menormalkan arus minyak dan gas global, lalu lintas tanker harus kembali pulih di Selat Hormuz.
Selat Hormuz adalah koridor laut sempit di lepas pantai Iran yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% minyak dan gas dunia biasanya melewati jalur ini. Namun, aktivitas tanker di selat tersebut disebut nyaris berhenti karena perusahaan pelayaran khawatir terhadap risiko serangan Iran.
Di Asia, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya menyatakan Jepang berniat melepas cadangan minyak dari stok nasional paling cepat pekan depan, dengan alasan ketergantungan Jepang terhadap pasokan Timur Tengah berada pada level “sangat tinggi”.
Sejumlah firma konsultan seperti Rapidan Energy Group dan Wood Mackenzie menilai penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sebelum keputusan IEA, analis energi sudah memperingatkan bahwa bahkan kemampuan pelepasan maksimum cadangan darurat sekalipun kemungkinan belum cukup untuk menutup volume besar minyak yang biasanya melintas di Hormuz setiap hari.
Birol menggambarkan situasi yang memburuk: produsen Timur Tengah mulai memangkas produksi, operasi kilang terganggu—dengan dampak besar terutama pada pasokan diesel dan jet fuel—sementara serangan masih berlanjut dan merusak infrastruktur energi maupun fasilitas terkait energi. Intinya, rilis cadangan darurat bisa menjadi “penyangga” jangka pendek, tetapi stabilisasi penuh tetap bergantung pada apakah jalur Hormuz bisa kembali aman dan berfungsi normal.(yds)
Sumber: Newsmaker.id