Emas Nyaris Tak Berubah Ditengah Memudarnya Peluang Cut Rate
Harga emas cenderung stabil setelah rilis data inflasi bulanan AS meredupkan prospek Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga, di tengah perang di Timur Tengah yang terus berlarut.
Bullion berada di sekitar US$5.175 per ons pada perdagangan awal, setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya. Meski inflasi inti AS relatif jinak di awal tahun sebelum konflik dimulai, kekhawatiran inflasi ke depan mengurangi kemungkinan The Fed memangkas biaya pinjaman. Uni Eropa, sementara itu, memperingatkan inflasinya bisa melampaui 3% tahun ini.
Memasuki hari ke-13, perang AS–Israel dengan Iran masih mengganggu produksi minyak dan aktivitas pengilangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah naik untuk hari kedua karena kekhawatiran konflik berkepanjangan mengalahkan dampak pelepasan cadangan darurat terbesar yang pernah dilakukan negara-negara kaya.
Selain menghadapi prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi—yang biasanya menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil—emas juga kerap menjadi sumber likuiditas ketika investor perlu menutup kerugian atau memperkuat bagian lain dari portofolionya. Meski begitu, emas masih naik sekitar seperlima sepanjang tahun ini, didukung perannya sebagai aset lindung nilai saat gejolak geopolitik.
Spot emas hampir tidak berubah di US$5.176,20 per ons pada pukul 06:14 waktu Singapura. Perak turun 0,1% ke US$85,63, sementara platinum dan palladium melemah. Bloomberg Dollar Spot Index ditutup naik 0,2% pada sesi sebelumnya.(YDS)
Sumber: Bloomberg