Dolar Stabil Dekat Terendah, Pasar Pangkas Ekspektasi Fed Hike
Dolar AS bergerak relatif datar pada perdagangan Selasa (18/8) dan masih berada dekat level terendah dalam beberapa bulan. Tekanan terhadap greenback datang setelah pasar terus memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, meskipun risiko eskalasi konflik di Timur Tengah membuat investor tetap berhati-hati.
Euro bergerak di sekitar US$1,157 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dua bulan di sekitar US$1,161. Poundsterling turun tipis ke sekitar US$1,3537 setelah data pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan pelemahan, meskipun masih berada tidak jauh dari level tertinggi tiga bulan.
Serangkaian data ekonomi AS dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan momentum yang mulai melunak, mulai dari pelemahan pasar tenaga kerja hingga inflasi yang relatif terkendali. Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 35%, dari lebih dari 50% pada pekan sebelumnya. Pasar juga tidak lagi sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Namun, sentimen di pasar obligasi justru masih dibayangi kekhawatiran inflasi. Ketegangan AS-Iran dan Selat Hormuz yang masih terganggu menjaga risiko kenaikan harga energi tetap tinggi, sementara tekanan fiskal juga mendorong biaya pinjaman jangka panjang di sejumlah negara maju ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Risiko geopolitik tersebut membantu menahan pelemahan dolar melalui permintaan safe haven. Dollar Index bergerak sekitar 0,1% lebih tinggi di 99,62. Yen Jepang, di sisi lain, melemah tipis ke sekitar 159,70 per dolar dan telah menghapus hampir separuh penguatan yang terjadi setelah intervensi bersama AS-Jepang pada akhir Juli.
Analisis Newsmaker: Dolar saat ini berada dalam tarik-menarik antara ekspektasi Fed hike yang menurun dan permintaan safe haven akibat risiko Timur Tengah. Jika data AS terus melemah, tekanan terhadap DXY masih berpotensi berlanjut dan memberi ruang bagi euro serta pound untuk menguat. Namun, kenaikan minyak atau eskalasi baru di Hormuz dapat kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi dan memberikan dukungan sementara bagi dolar.(yds)
Sumber: Newsmaker.id