AS-Iran Makin Jauh dari Damai, Brent Tahan Rally
Harga minyak mempertahankan reli pada perdagangan Selasa (18/8) setelah prospek penyelesaian cepat konflik AS-Iran semakin memudar. Brent bergerak di sekitar US$91 per barel setelah mencatat kenaikan tajam sejak awal Agustus, sementara WTI berada di sekitar US$84,95 per barel. Pasar masih memasukkan premi risiko tinggi karena gangguan di Selat Hormuz belum mereda.
Ketegangan kembali meningkat setelah sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil tak dikenal saat keluar dari Selat Hormuz. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan menimbulkan korban di antara awak kapal. Insiden baru ini kembali menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut masih berisiko tinggi.
Prospek diplomasi juga tetap suram. Presiden Donald Trump mengatakan tidak tertarik memperpanjang kesepakatan sementara dengan Iran yang telah berakhir pada Senin. Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan besar terkait pengelolaan Hormuz, sementara pembicaraan Iran dengan Oman belum melibatkan Amerika Serikat.
Meski risiko geopolitik tinggi, produsen Teluk mulai lebih aktif mencari cara menjaga arus ekspor. Arab Saudi dilaporkan menawarkan kargo minyak dari luar jalur Hormuz, mengikuti langkah Uni Emirat Arab dalam mengalihkan sebagian pasokan. Kondisi ini membantu menahan reli minyak agar tidak bergerak terlalu agresif.
Washington juga memberi sinyal akan memainkan strategi jangka panjang terhadap Iran dengan meningkatkan tekanan ekonomi, termasuk potensi sanksi baru. Di saat yang sama, pasar menunggu data persediaan minyak AS dari API dan laporan resmi berikutnya setelah stok sebelumnya secara mengejutkan meningkat.
Analisis Newsmaker: Selama serangan terhadap kapal terus terjadi dan diplomasi AS-Iran tetap buntu, Brent masih berpeluang mempertahankan area tinggi di sekitar US$90–US$92. Jika eskalasi meningkat dan arus Hormuz kembali terganggu lebih parah, ruang menuju US$95 bahkan US$100 bisa terbuka. Sebaliknya, jika ekspor dari Teluk tetap lancar dan stok AS kembali naik, Brent berpotensi terkoreksi ke area US$88–US$89. (arl)
Sumber : Newsmaker.id