Damai atau Konflik? Minyak Tunggu Hormuz
Harga minyak bergerak stabil setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, sementara pasar terus memantau perkembangan kesepakatan Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Brent ditutup di sekitar US$83,55 per barel, sedangkan WTI berada di US$78,18.
Sentimen minyak masih sangat sensitif terhadap berita Hormuz. Harapan pembukaan kembali jalur ini dapat mengembalikan jutaan barel pasokan ke pasar, tetapi trafik kapal masih jauh di bawah kondisi normal. Hanya 33 kapal yang tercatat melintas dari Senin hingga Kamis, dibandingkan sekitar 130–140 kapal per minggu sebelum konflik.
Harga sempat melemah setelah muncul laporan bahwa blokade laut AS terhadap Iran dapat dicabut jika kesepakatan tercapai dan pelayaran komersial kembali berjalan tanpa hambatan. Kondisi tersebut berpotensi menambah pasokan minyak dan menekan harga.
Namun, risiko keamanan masih tinggi. ADNOC melaporkan tiga kapalnya diserang dalam sepekan terakhir, sementara Iran juga mempertimbangkan larangan kapal AS dan Israel serta biaya transit bagi kapal yang melewati Hormuz. Rencana tersebut masih mendapat penolakan dari Washington dan industri pelayaran.
Ketegangan regional juga belum mereda setelah kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap pasukan yang didukung Arab Saudi. Kondisi ini membuat pelaku pasar enggan melepas posisi minyak terlalu agresif meskipun peluang kesepakatan Hormuz masih terbuka.
Analisis Newsmaker: Minyak saat ini berada di antara dua kekuatan besar: harapan normalisasi Hormuz yang dapat menekan harga dan risiko konflik yang menjaga premi geopolitik tetap tinggi. Selama belum ada kesepakatan final, Brent masih berpeluang bertahan di atas US$80. Kesepakatan resmi dapat memicu penurunan cepat, sedangkan serangan baru berpotensi membawa minyak kembali naik.(arl)
Sumber: Newsmaker.id