Dolar Melemah, Pasar Mulai Ragukan The Fed
Dolar AS melemah pada perdagangan Jumat (7/8) dan menuju penurunan selama dua pekan berturut-turut. Indeks dolar turun sekitar 0,4% ke level 99,54 setelah data tenaga kerja AS yang mengecewakan membuat pasar mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed.
Nonfarm Payrolls Juli turun 23 ribu pekerjaan, jauh dari perkiraan kenaikan 85 ribu. Data Mei dan Juni juga direvisi turun total 103 ribu pekerjaan. Meski tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%, laporan tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Pelemahan dolar membuat mata uang utama lainnya menguat. EUR/USD naik sekitar 0,4% ke 1,1568, GBP/USD menguat 0,3% ke 1,3502, sementara USD/JPY turun sekitar 0,6% ke 157,48 karena yen kembali mendapat dukungan.
The Fed kini menghadapi dilema antara melemahnya tenaga kerja dan risiko inflasi yang masih tinggi. Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya bahkan memilih kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli, tetapi NFP yang lemah membuat pasar semakin ragu bahwa pengetatan perlu dilakukan dalam waktu dekat.
Yen juga masih mempertahankan sebagian besar penguatan setelah intervensi bersama Jepang dan Amerika Serikat pada pekan sebelumnya. USD/JPY bertahan di area 157 setelah sebelumnya sempat mencapai sekitar 164 per dolar, level terlemah yen dalam beberapa dekade.
Analisis Newsmaker: NFP yang negatif menjadi tekanan utama bagi dolar karena mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Jika data tenaga kerja dan inflasi berikutnya terus melandai, DXY berpotensi bertahan di bawah 100, membuka ruang penguatan euro, pound, dan yen sekaligus memberikan sentimen positif bagi emas. (arl)
Sumber: Newsmaker.id