Minyak Tertekan, Jalur Hormuz Berpeluang Dibuka
Harga minyak melanjutkan penurunannya untuk hari ketiga pada perdagangan Rabu(5/8), seiring meningkatnya optimisme bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat segera dicapai. Minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 0,6 persen menjadi US$78,92 per barel, sedangkan WTI September melemah 0,7 persen menjadi US$75,24 per barel.
Penurunan tersebut memperpanjang tekanan setelah Brent dan WTI kehilangan lebih dari 10 persen nilainya dalam dua sesi sebelumnya. Pada penutupan Selasa, Brent merosot 5,3 persen menjadi US$79,36, sementara WTI turun 5,7 persen menjadi US$75,77 per barel setelah pejabat AS dan Qatar menyampaikan adanya kemajuan dalam pembicaraan diplomatik.
Qatar menyatakan rancangan proposal sementara telah dipertukarkan antara Washington dan Teheran melalui sejumlah mediator. Iran dan Oman juga dilaporkan membahas jalur aman sementara bagi kapal yang memasuki dan meninggalkan Teluk Persia, meskipun kesepakatan akhir belum tercapai dan persoalan program nuklir Iran masih menjadi hambatan utama.
Tekanan terhadap minyak juga datang dari laporan awal yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 2,7 juta barel pada pekan lalu. Stok di pusat pengiriman WTI di Cushing, Oklahoma, bertambah 2,4 juta barel. Jika dikonfirmasi dalam laporan resmi pemerintah AS, peningkatan tersebut dapat memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan jangka pendek mulai bertambah ketika risiko gangguan Hormuz mereda.
Dampak ke Market
Harga minyak masih berpotensi tertekan selama pembicaraan AS–Iran menunjukkan perkembangan positif. Pembukaan kembali Hormuz akan membantu memulihkan pengiriman minyak dari kawasan Teluk sekaligus mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga energi melonjak.
Penurunan minyak dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kebutuhan The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga secara agresif. Kondisi ini cenderung positif bagi saham dan emas, tetapi berpotensi menekan mata uang negara eksportir minyak. Namun, kegagalan negosiasi atau serangan baru terhadap kapal dapat kembali memicu lonjakan harga minyak secara cepat.(gn)
Sumber: Newsmaker.id