Hormuz Mereda, Dolar Tertekan di Bawah 100
Indeks dolar AS masih tertahan di bawah level psikologis 100 pada perdagangan Asia Rabu(5/8). DXY bergerak di sekitar 99,85, mendekati level terendah enam pekan, karena penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi dan mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga The Fed.
Tekanan terhadap dolar muncul setelah negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz menunjukkan kemajuan. Qatar menyatakan rancangan proposal telah diedarkan, sementara pembicaraan antara Iran dan Oman terus berjalan dengan masukan dari Amerika Serikat. Namun, belum ada kesepakatan final dan risiko kegagalan diplomasi masih terbuka.
Harga minyak yang turun tajam membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan perkembangan terbaru, peluang kenaikan bunga turun menjadi sekitar 60%, dari sekitar 75% sebelumnya. Penurunan yield Treasury turut membatasi daya tarik dolar.
Dolar juga masih tertekan terhadap yen setelah intervensi terkoordinasi Amerika Serikat dan Jepang. USD/JPY bergerak di sekitar 157,60, jauh di bawah puncak Juli, karena pelaku pasar mewaspadai kemungkinan intervensi lanjutan apabila yen kembali melemah tajam.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada laporan ADP Non-Farm Employment Change Juli yang dijadwalkan rilis hari ini. Laporan ADP menjadi gambaran tambahan mengenai kondisi tenaga kerja swasta menjelang data NFP, meskipun ADP menegaskan datanya bukan alat prediksi langsung untuk laporan tenaga kerja pemerintah AS.
Analisis Newsmaker: Selama DXY bertahan di bawah 100,00–100,20, tekanan terhadap dolar masih dominan dengan support terdekat di 99,50, kemudian 99,20. Data ADP yang lebih lemah dari perkiraan dapat menekan dolar dan mendukung emas serta yen. Sebaliknya, hasil yang kuat berpotensi mengangkat DXY kembali melewati 100 dan menghidupkan ekspektasi kenaikan bunga The Fed.(gn)
Sumber: Newsmaker.id