Emas Terkoreksi, Pasar Tunggu Risalah The Fed
Harga emas sedikit melemah pada perdagangan Senin (6/7) setelah sempat menguat di awal sesi. Pasar masih menimbang arah kebijakan moneter Federal Reserve, sementara tekanan inflasi mulai mereda karena harga minyak terus turun.
Pada pukul 16.45 ET atau 20.45 GMT, emas spot turun 0,3% ke level US$4.163,56 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka naik 1,2% ke level US$4.175,20 per troy ounce.
Emas sebelumnya mendapat dorongan dari data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat bulan Juni yang lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut membuat pasar menilai kondisi tenaga kerja AS masih cukup kuat, tetapi tidak terlalu panas. Hal ini memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.
Namun, kenaikan emas masih tertahan oleh ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menegaskan bahwa bank sentral akan mengurangi forward guidance dan lebih fokus pada data inflasi. Investor kini menunggu risalah rapat The Fed bulan Juni yang akan dirilis Rabu untuk melihat apakah pejabat bank sentral masih membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini.
Di sisi lain, tekanan inflasi mulai mereda setelah harga minyak turun mendekati level sebelum konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari. Harga minyak melemah karena OPEC+ sepakat menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus. Selain itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tetap berjalan cukup kuat, dengan data Kpler mencatat 108 kapal melintasi jalur tersebut sepanjang Jumat hingga Minggu.
Meski inflasi energi mulai mereda, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Presiden Donald Trump kembali menegaskan bahwa AS akan mencari kesepakatan dengan Iran, tetapi tetap membuka opsi untuk “menyelesaikan pekerjaan” jika diplomasi gagal. Bagi emas, kondisi ini membuat pergerakan masih rawan volatil, karena pasar berada di antara tekanan suku bunga, dolar AS, dan risiko geopolitik Timur Tengah.(arl)
Sumber : Newsmaker.id