JOLTS dan Hormuz Mendingin, Emas Menguat
Harga emas menguat pada perdagangan Selasa (4/8) di tengah penurunan tajam harga minyak dan data tenaga kerja AS yang sedikit lebih lemah dari perkiraan. Hingga perdagangan malam, emas spot berada di sekitar US$4.079 per troy ons, naik sekitar 0,6%, sedangkan kontrak berjangka emas menguat ke sekitar US$4.136 per troy ons.
Penurunan minyak menjadi salah satu penopang emas. Brent anjlok 5,3% ke US$79,36 per barel, sementara WTI turun 5,7% ke US$75,77 setelah muncul harapan AS dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Minyak yang lebih murah berpotensi meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kebutuhan The Fed menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Optimisme diplomasi meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kesepakatan pembukaan Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat. Qatar juga mengatakan rancangan deeskalasi telah diedarkan kepada pihak terkait. Namun, belum ada kesepakatan final dan Iran masih menegaskan pembicaraan dilakukan melalui mediator, bukan secara langsung dengan Washington.
Dari sisi ekonomi, jumlah lowongan kerja AS turun menjadi 7,359 juta pada Juni, lebih rendah dari perkiraan pasar. Data Mei juga direvisi turun menjadi 7,537 juta. Meski demikian, perekrutan tetap sekitar 5,3 juta dan tingkat pengunduran diri maupun pemutusan kerja relatif stabil, menandakan pasar tenaga kerja belum mengalami pelemahan tajam.
Pergerakan emas masih tertahan dalam rentang US$4.000–US$4.100. Data JOLTS yang lebih lemah dan penurunan minyak mendukung emas melalui berkurangnya ekspektasi kenaikan bunga. Sebaliknya, kemajuan diplomasi AS–Iran mengurangi kebutuhan terhadap aset aman sehingga membatasi kenaikan harga.
Analisis Newsmaker: Selama bertahan di atas US$4.050, emas masih berpeluang menguji resistance US$4.100. Penembusan kuat di atas level tersebut dapat membuka kenaikan menuju US$4.135–US$4.150. Namun, jika harga kembali turun di bawah US$4.050, area US$4.020 hingga US$4.000 berpotensi menjadi tujuan berikutnya. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data tenaga kerja, terutama NFP, yang dapat menentukan arah ekspektasi suku bunga The Fed. (arl)
Sumber : Newsmaker.id