Reli Terhenti, Minyak Terkoreksi Usai Sinyal Deal
Harga minyak terkoreksi tajam pada Kamis (4/6) setelah pasar menangkap sinyal bahwa AS dan Iran makin dekat ke kesepakatan damai, menyusul gencatan senjata bersyarat Israel–Lebanon. WTI turun lebih dari 3% dan menutup sesi di US$93,04/barel, memutus reli tiga hari beruntun, sementara Brent kontrak Agustus turun 2,8% ke US$95,03/barel.
Kabar gencatan Israel–Lebanon dinilai bisa memenuhi salah satu syarat tawar Iran, sehingga membuka ruang bagi kesepakatan Washington–Teheran untuk memperpanjang gencatan dua bulan dan membuka kembali Selat Hormuz. Harga makin tertekan setelah Trump menulis di media sosial bahwa pembicaraan sudah berada di “tahap final”, memperkuat persepsi bahwa pasar mungkin akan segera mendapat kepastian.
Meski demikian, hambatan di lapangan masih jelas. Iran menyebut tidak ada kemajuan terbaru dalam pembicaraan, sementara Hezbollah yang didukung Iran dilaporkan menolak gencatan yang dimediasi AS. Di sisi fisik, Hormuz masih efektif tertutup—padahal jalur ini merupakan chokepoint penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia lewat laut—yang berarti “deal headline” belum otomatis mengembalikan arus minyak.
Fundamental pasokan juga masih ketat. Data AS menunjukkan stok di Cushing, Oklahoma turun untuk minggu keenam berturut-turut dan mendekati level minimum operasional, mengindikasikan bantalan pasokan menipis. Pekan ini, kekhawatiran soal stok yang menyusut sempat menjadi pendorong reli minyak sebelum sentimen berbalik karena harapan deal.
Trump mengatakan Hormuz akan dibuka “segera” jika Iran menandatangani memorandum penghentian permusuhan, dengan catatan pembersihan area tertentu dari ranjau. Namun pasar tetap menilai kunci utamanya adalah eksekusi dan normalisasi arus kapal, karena selama Hormuz belum benar-benar berfungsi, premi risiko pasokan dan kekhawatiran inflasi energi bisa cepat kembali naik jika negosiasi tersendat lagi.
Dengan kata lain, penurunan hari ini mencerminkan pasar mengurangi premi risiko berdasarkan headline “deal makin dekat”, tetapi volatilitas masih berpotensi tinggi karena rintangan politik-militer dan bukti arus fisik belum sepenuhnya berubah.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id