Minyak Melonjak, Pasar Tertekan!
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan setelah serangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Brent sempat menguat hingga 3,8% ke US$91,42 per barel, level tertinggi sejak Juni, karena konflik mulai meluas ke luar target militer.
Kenaikan minyak langsung menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi global. Harga energi yang lebih mahal berpotensi menekan daya beli, menaikkan biaya produksi, dan membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga.
Pasar obligasi ikut tertekan. Imbal hasil bergerak naik karena investor memperkirakan harga minyak yang tinggi dapat membuat inflasi kembali sulit dikendalikan. Obligasi pemerintah Australia dan Selandia Baru juga melemah karena kekhawatiran yang sama.
Di pasar saham, pergerakan bursa cenderung campuran. Nasdaq futures sempat naik setelah aksi jual besar pada pekan lalu, tetapi pasar Asia masih rapuh. Kospi Korea Selatan turun tajam setelah investor kembali dari libur, tertekan oleh aksi jual saham AI dan semikonduktor.
Tekanan pada sektor teknologi belum sepenuhnya selesai setelah perusahaan AI China, Moonshot AI, merilis model baru yang menantang dominasi teknologi Amerika Serikat. Di sisi lain, saham teknologi China justru menguat, termasuk Alibaba setelah merilis pratinjau model AI terbarunya.
Dampaknya ke market, minyak berpotensi tetap kuat selama konflik AS-Iran belum mereda dan Brent bertahan di atas US$90 per barel. Emas masih bisa mendapat dukungan safe haven, tetapi penguatannya dapat tertahan jika inflasi membuat ekspektasi suku bunga naik lagi. Sementara itu, dolar AS berpeluang menguat karena pasar mencari aset aman dan menilai The Fed masih harus fokus menekan inflasi.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id