Brent Gap Up, Sinyal Panas dari Timur Tengah
Harga Brent dibuka menguat tajam pada perdagangan Senin (20/7), terlihat dari adanya gap up saat market open. Berdasarkan pergerakan di chart harian, Brent dibuka di sekitar US$88,65 per barel, dengan level tertinggi sementara di US$88,79 dan terendah di US$88,15. Pergerakan ini menunjukkan buyer langsung masuk sejak awal sesi.
Secara teknikal, area US$88,15 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan. Selama harga masih bertahan di atas area tersebut, momentum bullish Brent masih cukup kuat. Namun, jika harga turun dan menembus US$88,15, peluang koreksi untuk menutup gap ke area US$87,30 hingga US$86,70 bisa terbuka.
Dari sisi resistance, Brent saat ini sedang menguji area US$88,80 hingga US$89,00. Jika area ini berhasil ditembus, target berikutnya berpotensi mengarah ke US$90,00 hingga US$91,40. Namun, indikator momentum sudah berada di area sangat tinggi, sehingga potensi profit taking tetap perlu diwaspadai setelah kenaikan cepat.
Secara fundamental, penguatan Brent masih didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi serangan di kawasan Teluk membuat pasar kembali mencemaskan gangguan pasokan energi, terutama melalui jalur penting seperti Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah.
Kekhawatiran pasar makin besar karena konflik tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga mulai menekan infrastruktur energi dan jalur pelayaran. Jika risiko keamanan meningkat, pemilik kapal dan pelaku logistik bisa lebih berhati-hati masuk ke kawasan Teluk, sehingga pasokan minyak global berpotensi terganggu.
Dampaknya ke market, Brent masih berpeluang bertahan kuat selama risiko geopolitik belum mereda. Namun, kenaikan minyak yang terlalu cepat juga dapat memicu kekhawatiran inflasi baru, menekan pasar saham, menguatkan dolar AS sebagai aset safe haven, dan membatasi ruang penguatan emas karena ekspektasi suku bunga tinggi kembali meningkat.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id