Emas Bertahan dilevel Negatif Saat Hormuz Masih Buntu
Emas bertahan setelah pelemahan tajam pekan lalu, di tengah belum adanya kemajuan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran inflasi. Harga bullion diperdagangkan di sekitar US$4.516 per ons, setelah turun hampir 4% dalam sepekan.
Ketidakpastian datang dari negosiasi yang masih buntu antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang berminggu-minggu dan membuka Hormuz, jalur penting arus energi global yang masih efektif tertutup. Situasi ini menjaga premi risiko pada harga energi dan menahan sentimen pasar tetap defensif.
Kenaikan harga minyak pada awal pekan ikut memperbesar kekhawatiran bahwa tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama. Jika inflasi kembali menguat, pasar menilai peluang kebijakan suku bunga yang lebih tinggi bisa meningkat, kondisi yang biasanya membebani emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejak anjlok di fase awal konflik, pergerakan emas cenderung berada dalam rentang sempit. Investor menimbang dua narasi yang saling tarik-menarik: risiko inflasi yang dapat membuat suku bunga bertahan tinggi, dan risiko pelemahan pertumbuhan yang pada akhirnya bisa mendorong pelonggaran kebijakan moneter jika konflik berlarut.
Ketegangan juga tetap tinggi setelah laporan serangan drone pada Minggu yang memicu kebakaran di sebuah pembangkit nuklir Uni Emirat Arab, menyoroti rapuhnya situasi gencatan senjata di Timur Tengah. Perkembangan semacam ini berpotensi menjaga volatilitas pada minyak, obligasi, dan aset lindung nilai.
Di pasar obligasi, aksi jual global mendorong yield melonjak seiring kekhawatiran lonjakan inflasi berbasis perang akan menekan bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Kenaikan yield ini membuat sebagian pelaku pasar mengurangi posisi di emas karena daya tarik relatifnya menurun, meski ada pandangan bahwa bank sentral bisa berbalik dovish jika pertumbuhan melemah.
Pelaku pasar kini menunggu risalah rapat (minutes) The Fed untuk petunjuk arah suku bunga berikutnya. Pada saat yang sama, dinamika permintaan fisik juga dipantau: permintaan India disebut melemah akibat aturan impor yang lebih ketat, sementara permintaan China dinilai dapat mengimbangi; pada 07:42 waktu Singapura, spot gold tercatat naik 0,1% ke US$4.537,83, sementara indeks dolar relatif stabil setelah menguat pekan lalu.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id