Dolar Melemah Pasca Laporan Kesepakatan Sanksi AS-Iran
Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama pada Senin (18/5) setelah harga minyak turun dan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mundur dari puncak 15 bulan, menyusul laporan media Iran yang menyebut Washington siap memberi pengecualian sementara atas sanksi minyak Iran. Euro naik 0,1% ke US$1,1636 dan pound menguat 0,7% ke US$1,3409, sementara indeks dolar turun 0,15% ke 99,13 setelah mencatat performa mingguan terkuat dalam tiga bulan pekan lalu.
Sentimen pasar juga dipengaruhi laporan terpisah Al Arabiya yang menyebut Iran menyetujui pembekuan program nuklir jangka panjang alih-alih pembongkaran penuh fasilitasnya. Kombinasi laporan tersebut menekan minyak dan mendorong pasar lain menguat, dengan pelaku pasar menilai kabar itu menjadi pemicu utama pelemahan dolar pada awal sesi.
Meski terkoreksi, dolar sebelumnya ditopang disrupsi energi Timur Tengah karena ekonomi AS dinilai lebih siap menyerap biaya energi yang lebih tinggi dibanding sejumlah negara lain. Namun aksi jual obligasi global—yang sempat berlanjut lebih awal sebelum berbalik arah—menegaskan kekhawatiran bahwa energi mahal dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan lebih ketat. Commerzbank menilai pergeseran ekspektasi Fed ke arah lebih restriktif menjadi lebih jelas pekan lalu, saat pasar mulai berani memasang peluang kenaikan suku bunga.
Isu transisi kepemimpinan The Fed turut menjadi fokus. Sejumlah pelaku pasar menilai pergerakan ini juga mencerminkan “uji” terhadap sikap Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, khususnya apakah ia akan merespons tekanan inflasi secara independen. Pasar kini mem-price peluang lebih dari 52% untuk kenaikan suku bunga Fed pada Januari, sementara inflasi yang persisten—sebagian dipicu perang—dapat menghambat harapan penurunan suku bunga.
Di Asia, yen melemah 0,2% ke 159 per dolar dan menyentuh level terlemah sejak 30 April. Setelah intervensi Jepang pada akhir April hingga awal Mei sempat menguatkan yen, mata uang itu kembali melepas sebagian besar penguatannya. Media juga melaporkan pemerintah Jepang kemungkinan menerbitkan utang untuk mendanai anggaran tambahan guna meredam dampak ekonomi perang Timur Tengah.
Pasar selanjutnya menunggu konfirmasi resmi soal opsi waiver sanksi dan detail jalur diplomasi nuklir, sambil memantau arah minyak, yield AS, serta sinyal Warsh dan pejabat Fed terkait toleransi terhadap inflasi. Di Jepang, dinamika yen dan rencana pembiayaan fiskal juga berpotensi menjadi sumber volatilitas lanjutan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id