Trump Ancam Iran, Oil Menguat
Harga minyak naik untuk hari ketiga seiring Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Brent diperdagangkan di atas US$111/barel setelah naik hampir 8% pekan lalu, sementara WTI mendekati US$108/barel.
Kenaikan ini mencerminkan premi risiko yang tetap tinggi karena aliran minyak melalui Hormuz masih terbatas, menekan pasokan dari produsen Teluk Persia. Minyak telah naik lebih dari 50% sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari, dan pasar menilai risiko pasokan belum punya mekanisme penyelesaian yang benar-benar meyakinkan.
Sentimen ikut dipicu eskalasi retorika Trump, yang menyatakan “waktu Iran menipis” dan menuntut proposal baru dari Teheran. Media Iran melaporkan kedua pihak masih berjauhan, dengan klaim Washington tidak memberi konsesi nyata sehingga negosiasi berpotensi buntu.
Tekanan suplai juga bertambah setelah pemerintahan Trump membiarkan izin pengecualian penjualan minyak Rusia berakhir, meski India disebut meminta perpanjangan. Sementara itu, serangan drone yang memicu kebakaran di fasilitas nuklir Uni Emirat Arab menegaskan rapuhnya gencatan senjata dan menjaga risiko keamanan energi tetap tinggi.
Pada perdagangan Asia, Brent kontrak Juli naik sekitar 1,8% ke US$111,21/barel, sementara WTI kontrak Juni naik 2,1% ke US$107,62/barel; kontrak Juli yang lebih aktif juga menguat. Pasar kini memantau kelanjutan negosiasi AS-Iran, status operasional Hormuz, serta langkah lanjutan AS dan Israel yang dapat mengubah profil risiko pasokan minyak global.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id