Harga Minyak Berfluktuasi di Tengah Memudarnya Optimisme Penyelesaian Konflik Iran
Harga minyak bergerak fluktuatif seiring kembali munculnya kekhawatiran bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz masih belum tercapai. Sentimen pasar berubah setelah tanda-tanda menunjukkan Amerika Serikat dan Iran masih berselisih terkait kendali atas jalur transit minyak dan gas alam yang krusial tersebut.
Brent, sebagai acuan global, diperdagangkan di sekitar US$100 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$95 per barel. Perdagangan sepanjang pekan ini berlangsung volatil karena pelaku pasar terus mencermati setiap perkembangan terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci penting untuk meredakan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini. Saat ini, AS masih menunggu respons resmi dari Iran atas proposal pembukaan kembali selat sekaligus penghentian konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Laporan terbaru menyebut Washington mempertimbangkan untuk kembali menjalankan operasi pengawalan kapal komersial melalui selat tersebut, setelah sebelumnya dihentikan akibat tekanan dari sekutu. Namun, kekerasan sempat pecah setelah pengumuman awal operasi tersebut, termasuk aksi saling serang antara AS dan Iran serta serangan Tehran ke Uni Emirat Arab.
Meski Brent sempat anjlok tajam di tengah harapan damai, pelaku pasar kini menilai masih terdapat hambatan signifikan, termasuk aturan baru Iran yang mewajibkan kapal mengajukan izin sebelum melintasi selat. Dengan blokade ganda yang masih berlangsung dan kapal-kapal tetap berhati-hati, harga minyak diperkirakan akan terus bergerak mengikuti setiap perkembangan diplomasi dan eskalasi militer di kawasan tersebut.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id