Dolar Tertahan, Yen dan Emas Ikut Dipengaruhi Tajuk Timur Tengah
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak lebih lemah di sekitar $98 pada hari Kamis (7/5) saat pasar terus menilai ulang arah sentimen risiko di tengah tajuk cepat berubah terkait kemungkinan kesepakatan AS–Iran, termasuk isu pembukaan kembali Selat Hormuz.
Optimisme awal yang sempat menekan permintaan safe-haven mereda ketika laporan lanjutan menunjukkan sejumlah poin kunci masih buntu, terutama terkait akses maritim, pelonggaran sanksi, dan kerangka keamanan. Ketidakpastian itu membuat pergerakan FX kembali lebih dua arah: risk-on mendorong pelemahan dolar, sementara setiap sinyal hambatan negosiasi cenderung menghidupkan kembali dukungan defensif bagi greenback.
Di pasar utama, EUR/USD berada di sekitar 1,1750. GBP/USD di kisaran 1,3577. Sementara USD/JPY berada di sekitar 156,66, dengan perhatian pasar masih sensitif terhadap dinamika yield AS dan ketidakpastian geopolitik. Pada mata uang komoditas, AUD/USD diperdagangkan sekitar 0,7222.
Dari sisi komoditas, minyak tetap volatil seiring headline negosiasi yang berubah cepat. WTI berada di sekitar US$96,3 per barel, sementara Brent di sekitar US$101,4 per barel. Pergerakan ini mencerminkan tarik-menarik antara harapan de-eskalasi (yang biasanya menurunkan premi risiko suplai) dan risiko gangguan logistik/keamanan yang belum sepenuhnya mereda.
Emas bergerak dengan nada lebih lemah seiring berkurangnya permintaan safe-haven, dengan XAU/USD sekitar US$4.709,92. Secara transmisi, meredanya ketegangan biasanya menekan aset lindung nilai, sementara kembalinya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas energi dapat kembali menopang permintaan defensif.
Pasar juga mencermati sinyal ketahanan tenaga kerja AS menjelang rilis data payroll, setelah klaim pengangguran terbaru (sesuai materi) menunjukkan kenaikan klaim awal namun klaim lanjutan menurun—kombinasi yang bisa menjaga ekspektasi kebijakan tetap sensitif pada data, dan berpengaruh ke dolar melalui jalur ekspektasi suku bunga serta pergerakan yield.
Ke depan, fokus pasar cenderung tertuju pada tiga variabel: perkembangan negosiasi AS–Iran dan status keamanan Selat Hormuz, arah minyak sebagai proksi premi risiko geopolitik, serta rilis data tenaga kerja AS yang bisa mengubah pricing ekspektasi kebijakan dan memantulkan volatilitas ke DXY dan pasangan mayor.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id