Trump Tolak Perpanjang Gencatan Senjata, Peluang Damai Makin Menipis
Prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali memburuk setelah Presiden Donald Trump menegaskan tidak tertarik memperpanjang memorandum kesepahaman yang berakhir pada Senin. Kesepakatan tersebut sebelumnya dirancang sebagai masa jeda selama 60 hari agar Washington dan Teheran dapat mencapai perjanjian damai yang lebih permanen.
Namun dua bulan setelah kesepakatan ditandatangani, kedua pihak kini sama-sama menilai perjanjian tersebut praktis sudah tidak berlaku. Ketegangan di Selat Hormuz terus memicu bentrokan baru, sementara konflik di beberapa titik Timur Tengah, termasuk Lebanon, membuat risiko eskalasi regional semakin besar. Belum ada kemajuan berarti terkait program nuklir Iran yang tetap menjadi salah satu tuntutan utama Washington.
Trump tetap menilai AS memiliki posisi tawar kuat melalui blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Ia kembali mengklaim Washington memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, pernyataan yang bertentangan langsung dengan posisi Teheran yang bersikeras memiliki hak mengatur lalu lintas melalui jalur strategis tersebut.
Ketidakpastian tersebut langsung tercermin di pasar energi. Brent menutup perdagangan Senin mendekati US$91 per barel dan telah melonjak sekitar 8% sejak awal pekan lalu. Pasar semakin pesimistis terhadap kemungkinan pembukaan kembali Hormuz dalam waktu dekat, padahal jalur tersebut sebelum konflik menangani sekitar seperlima arus minyak dan gas dunia.
Oman masih mencoba menengahi pembicaraan dengan Iran mengenai pengelolaan Hormuz. Teheran menyatakan peta pelayaran baru telah diselesaikan sebagai bagian dari kerangka pengaturan lalu lintas, tetapi kesepakatan final belum tercapai. Iran juga tetap menuntut AS mencabut blokadenya sebelum normalisasi pelayaran dapat dilakukan.
Analisis Newsmaker: Penolakan Trump memperpanjang gencatan senjata memperkuat sinyal bahwa diplomasi AS-Iran semakin kehilangan momentum. Selama blokade tetap berlangsung dan Hormuz belum dibuka secara penuh, premi risiko pada minyak berpotensi bertahan tinggi. Kondisi ini juga menjaga risiko inflasi global serta permintaan safe haven seperti emas, sementara eskalasi militer baru dapat mendorong volatilitas pasar jauh lebih besar.(yds)*
Sumber: Newsmaker.id