Gold Mulai Goyah, Inflasi Jadi Ancaman
Harga emas berbalik melemah pada perdagangan Senin (10/8) setelah dolar AS kembali menguat. Emas spot turun sekitar 0,2% ke US$4.334,55 per troy ons, sementara emas berjangka melemah tipis ke sekitar US$4.394.
Tekanan terhadap emas muncul setelah harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz mulai memudar. Iran kembali mengajukan sejumlah tuntutan kepada Amerika Serikat, sementara Presiden Donald Trump memilih mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Ketidakpastian di Hormuz membuat risiko kenaikan harga energi tetap tinggi. Jalur tersebut sebelumnya dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga gangguan berkepanjangan dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi global.
Fokus pasar kini beralih ke data inflasi AS pekan ini. CPI akan menjadi petunjuk penting mengenai seberapa besar tekanan harga akibat konflik Timur Tengah dan apakah The Fed masih perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Emas sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Juni setelah data tenaga kerja AS menunjukkan NFP turun pada Juli dan data dua bulan sebelumnya direvisi lebih rendah. Kondisi tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Analisis Newsmaker: Emas masih mendapat dukungan dari melemahnya pasar tenaga kerja dan permintaan bank sentral, tetapi penguatan dolar serta risiko inflasi dari Hormuz membatasi kenaikan. Jika CPI lebih rendah dari perkiraan, emas berpeluang kembali menguat. Sebaliknya, inflasi yang tinggi dapat mendorong dolar dan yield naik serta menekan gold lebih dalam.(arl)
Sumber: Newsmaker.id