Deal Makin Sulit, Brent Siap Tembus US$85?
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Senin (10/8) setelah Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan final untuk membuka kembali Selat Hormuz. Brent naik sekitar 1,5% ke US$84,81 per barel, sementara WTI menguat 1,5% ke sekitar US$79,39.
Iran sebelumnya mengatakan kesepakatan dengan Oman sudah “sangat dekat”. Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa pembukaan Hormuz membutuhkan pencabutan blokade AS terhadap pelayaran Iran serta pembayaran kompensasi atas kerugian akibat perang.
Presiden AS Donald Trump memilih pendekatan yang lebih sabar dan mengatakan Washington sedang mengurangi tekanan militernya. Namun, strategi tersebut membuat kepastian pembukaan Hormuz tetap menggantung karena belum ada tanda kedua pihak akan mencapai titik temu dalam waktu dekat.
Arus kapal melalui Hormuz juga masih sangat rendah. Saat ini hanya sekitar lima kapal yang melintas setiap hari, jauh di bawah sekitar 14 kapal per hari setelah kesepakatan sementara pada Juni. Pasar menilai peningkatan jumlah kapal menjadi tanda penting bahwa pasokan energi benar-benar mulai normal.
Risiko keamanan tetap tinggi setelah sebuah tanker ADNOC kembali dilaporkan menjadi target di Hormuz. Kelompok Houthi juga mengklaim menyerang kilang Jazan milik Arab Saudi. Penunjukan tokoh garis keras Mohsen Rezaee ke posisi keamanan tertinggi Iran semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Teheran tidak akan mudah melonggarkan kendalinya atas selat tersebut.
Analisis Newsmaker: Sentimen minyak masih cenderung bullish selama arus kapal Hormuz belum kembali normal. Brent berpotensi bergerak dalam kisaran US$80–US$90 selama ketidakpastian berlangsung. Kesepakatan yang jelas dapat memicu koreksi, tetapi kegagalan negosiasi atau serangan baru berpeluang membawa Brent menembus US$85 dan bergerak lebih tinggi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id