Emas Turun Ditengah Ketegangan Baru Timur Tengah
Harga emas melemah pada Rabu (3/6) seiring kenaikan harga minyak yang dipicu ketegangan terbaru di Timur Tengah, menjaga risiko inflasi dan peluang kenaikan suku bunga bank sentral tetap terbuka.
Pada 05:42 waktu timur AS, spot gold turun 1,0% ke US$4.444,86 per ons, sementara kontrak berjangka turun 1,0% ke US$4.475,62.
Dari sisi geopolitik, militer AS menyatakan serangan udara Iran ke Kuwait, Bahrain, dan target lain berhasil digagalkan atau gagal, menurut media. Media pemerintah Iran menyebut IRGC menyerang markas Armada Kelima AS di Bahrain sebagai balasan atas serangan AS terhadap menara komunikasi di selatan Qeshm. Rangkaian kejadian ini menekan harapan tercapainya kesepakatan cepat untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, meski Presiden AS Donald Trump menegaskan pembicaraan Washington-Teheran masih berjalan.
Di pasar energi, minyak Brent menguat di tengah memudarnya optimisme bahwa jalur perdagangan di Selat Hormuz segera kembali normal. Kenaikan minyak memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi global bisa terdorong kembali, sehingga bank sentral dipaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali mengetatkan kebijakan. Dalam lingkungan seperti ini, emas sebagai aset tanpa imbal hasil cenderung tertinggal ketika yield dan biaya peluang meningkat.
Dolar AS juga menguat, yang menambah tekanan ke emas dengan membuat harga bullion lebih mahal bagi pembeli non-AS. Permintaan terhadap dolar disebut meningkat sepanjang konflik Iran, dengan sebagian pelaku pasar menilai ekonomi AS sebagai pengekspor energi relatif lebih terlindungi dari dampak perang dibanding banyak ekonomi importir.
Dari sisi data, perhatian pasar mulai beralih ke petunjuk arah kebijakan The Fed dari rangkaian indikator ekonomi AS. Data lowongan kerja (JOLTS) menunjukkan pembukaan lowongan secara tak terduga naik pada April, memperkuat persepsi bahwa kebijakan bisa tetap restriktif lebih lama. Pasar saat ini masih melihat The Fed cenderung menahan suku bunga pada pertemuan Juni, namun kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini tetap diperhitungkan.
Fokus berikutnya adalah rilis ADP private employment, survei ISM jasa, dan data factory orders yang dijadwalkan keluar pada Rabu, menjelang laporan nonfarm payrolls pada Jumat. Untuk emas, kombinasi arah minyak, kekuatan dolar, dan pembacaan pasar atas data tenaga kerja akan menjadi variabel kunci yang menentukan apakah tekanan berlanjut atau mulai mereda.(yds)
Sumber: Newsmaker.id