Emas Stabil, Pasar Cerna KTT Trump-Xi dan Risiko Inflasi dari Perang Iran
Harga emas bergerak relatif stabil pada Kamis (14/5) saat investor menelaah detail pertemuan pemimpin AS dan China yang berlangsung di tengah eskalasi risiko geopolitik terkait perang Iran. Pada 10:09 GMT, emas spot naik 0,2% ke US$4.698,20 per ons, sementara kontrak berjangka nyaris tidak berubah di US$4.704,70.
Putaran pertama pembicaraan dalam KTT dua hari antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah berakhir, dengan Xi mengatakan kepada media pemerintah bahwa negosiasi, khususnya terkait perdagangan, menunjukkan kemajuan. Namun, Xi juga menyinggung potensi friksi akibat perbedaan pandangan terkait Taiwan yang dapat kembali membebani hubungan kedua negara.
Pasar terutama menunggu sinyal apa pun terkait pembahasan perang Iran, termasuk kemungkinan peran China sebagai importir besar minyak Iran dalam mendorong kerangka perdamaian yang lebih tahan lama. Ketidakpastian ini berlangsung bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz yang berlarut, jalur vital yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima aliran minyak global, sementara blokade ganda Iran dan AS membuat lalu lintas tanker nyaris berhenti.
Lonjakan harga minyak jauh di atas level pra-perang sekitar US$70 per barel menambah tekanan inflasi dan mengangkat ekspektasi bahwa bank sentral dapat merespons dengan suku bunga lebih tinggi. Transmisi ini berpotensi membatasi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil, terutama jika pasar mulai memproyeksikan kebijakan moneter yang lebih ketat. Di AS, Senat mengukuhkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve pada Rabu, menggantikan Jerome Powell, pada saat pembuat kebijakan menghadapi tekanan harga yang bisa menyulitkan ruang pemangkasan suku bunga. Pada saat yang sama, dolar AS cenderung datar, meski tetap dipandang sebagai safe haven selama konflik, dengan sebagian pelaku pasar menilai AS sebagai eksportir energi besar relatif lebih terlindungi dari guncangan energi akibat tersendatnya Hormuz.(yds)
Sumber: Newsmaker.id