Minyak Naik Tipis, Pasar Tunggu Hasil KTT Trump-Xi soal Iran
Harga minyak menguat tipis pada Kamis (14/5), sementara pasar menanti perkembangan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang dipantau apakah bisa menghasilkan langkah positif menuju penyelesaian perang Iran. Fokus utama investor adalah apakah China bersedia memainkan peran lebih aktif untuk mendorong Tehran bernegosiasi dengan Washington, meski sejumlah analis meragukan Xi akan menekan terlalu keras mitra strategis lama Beijing tersebut.
Minyak Brent naik 45 sen atau 0,43% menjadi US$106,08 per barel pada 07:14 GMT, sedangkan WTI bertambah 41 sen atau 0,41% ke US$101,43. Kenaikan ini terjadi setelah kedua kontrak acuan turun pada Rabu, saat kekhawatiran meningkat terkait potensi kenaikan suku bunga AS, seiring kenaikan harga energi yang bisa memperkuat tekanan inflasi.
Di awal KTT dua hari pada Kamis, Xi menyampaikan kepada Trump bahwa pembicaraan dagang menunjukkan kemajuan, namun ia juga memperingatkan bahwa perbedaan terkait Taiwan dapat mendorong hubungan kedua negara ke arah yang berbahaya. Komentar Xi yang dilaporkan Xinhua itu membentuk ekspektasi pasar terhadap arah pembahasan yang lebih luas, termasuk isu geopolitik yang berdampak langsung pada risiko pasokan energi.
Sejumlah analis menilai pasar masih berada dalam mode “wait-and-see” dan bisa terlalu menggantungkan harapan pada kemungkinan terobosan dari pembicaraan AS-China terkait konflik Iran. Pada saat yang sama, Selat Hormuz sebagai jalur energi kunci masih largely shut sejak perang pecah pada akhir Februari, dan minimnya kemajuan dalam pembukaan kembali jalur tersebut dinilai bisa mempersempit opsi kebijakan AS. Iran juga disebut memperketat kontrol atas selat, sementara data terbaru menunjukkan pergerakan kapal tanker masih sangat terbatas.
Di sisi fundamental, International Energy Agency (IEA) memperingatkan pasokan minyak global tahun ini diperkirakan defisit terhadap permintaan karena perang mengganggu produksi Timur Tengah dan menguras persediaan dengan laju yang tidak biasa, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan surplus.(yds)
Sumber: Newsmaker.id