Gold Turun, PPI AS dan Risiko Geopolitik Jaga Dolar Kuat
Emas (XAU/USD) mengonsolidasikan pelemahan pada Rabu (13/5), bertahan di sekitar $4.687 dengan penurunan intraday sekitar 0,55% saat dolar AS melanjutkan pemulihan. Sentimen dibayangi ketidakpastian lanjutan seputar pembicaraan AS–Iran, sementara pasar semakin menilai The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.
Tekanan datang dari rangkaian data inflasi AS yang kembali lebih panas. PPI April naik 6,0% yoy (dari 4,3% di Maret) dan melampaui ekspektasi 4,9%, sementara core PPI naik 5,2% yoy (dari 4,0%) di atas perkiraan 4,3%. Sehari sebelumnya, CPI headline juga menguat ke 3,8% yoy pada April (dari 3,3%), melampaui ekspektasi 3,7% dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.
Repricing inflasi tersebut menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini dan memperbesar probabilitas langkah berikutnya berupa kenaikan. Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan naik ke sekitar 33% pada Desember dan mendekati 41,5% pada Januari 2027, mendorong yield AS lebih tinggi dan mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di luar faktor suku bunga, pasar bullion juga mencermati keputusan India yang menaikkan tajam tarif impor emas dan perak dari 6% menjadi 15%. Kebijakan ini memicu lonjakan harga emas domestik dan berpotensi menekan permintaan fisik dari salah satu konsumen terbesar dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi geopolitik, belum terlihat solusi jangka dekat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, dengan negosiasi damai AS–Iran tetap buntu terkait program nuklir Teheran dan Selat Hormuz yang masih efektif tertutup. Fokus pasar berikutnya tertuju pada perkembangan negosiasi tersebut serta pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini, karena kombinasi headline geopolitik dan repricing kebijakan The Fed akan tetap menjadi penentu arah USD dan XAU/USD.(yds)
Sumber: Newsmaker.id