Minyak Terkoreksi, Hormuz dan KTT Disorot
Harga minyak melemah dalam perdagangan yang volatil pada Rabu (13/5), ketika pelaku pasar menahan posisi menjelang pertemuan penting Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. WTI kontrak Juni turun 1,1% dan ditutup di US$101,02 per barel, memutus reli tiga sesi, sementara Brent kontrak Juli turun 2% dan ditutup di US$105,63 per barel.
Penurunan juga dipicu rilis data persediaan AS yang meredakan kekhawatiran pengetatan pasokan jangka pendek. Stok distillate naik 190 ribu barel, kenaikan pertama sejak Maret, sementara stok minyak mentah turun 4,3 juta barel—hampir dua kali lipat dari proyeksi kelompok industri yang banyak diikuti. Di sisi positioning, pasar dinilai enggan menambah risiko ke dua arah menjelang KTT Trump–Xi, sekaligus ragu mengejar reli di atas US$100 karena perubahan retorika kerap memicu lonjakan volatilitas.
Meski sesi ini korektif, risiko geopolitik tetap menjadi latar dominan. Konflik Timur Tengah mengacaukan arus energi, dengan kilang di sejumlah negara Asia mencari alternatif suplai. Selat Hormuz disebut efektif tertutup sejak perang pecah akhir Februari, ditambah blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, yang memperpanjang gangguan pengiriman minyak, gas alam, dan bahan bakar.
Fundamental pasokan juga masih memberi bias ketat. IEA menyebut persediaan minyak global terpantau turun sekitar 4 juta barel per hari pada Maret dan April, sementara Arab Saudi menyampaikan kepada OPEC bahwa produksinya turun ke level terendah sejak 1990. Namun indikator kekuatan pasar tidak sepenuhnya satu arah: sinyal pengetatan sempat melemah dalam beberapa sesi terakhir ketika kilang mengurangi pembelian, sejalan dengan pasar yang lebih sensitif pada data stok.
Kanal inflasi tetap menjadi pertimbangan utama, mengingat perang Iran mendorong biaya energi dan harga bensin AS mencapai level tertinggi sejak 2022, menambah tekanan politik domestik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu November. Di sisi pasokan, pengiriman dari terminal ekspor utama Iran disebut terhenti dalam beberapa hari terakhir, Vietnam juga meminta AS mengizinkan supertanker melewati blokade—kapal tersebut sempat melintasi Hormuz namun berbalik pada Senin dekat perimeter blokade.
Pelaku pasar kini memantau hasil Trump–Xi (terutama sinyal perdagangan dan posisi China sebagai pembeli utama minyak Iran), perkembangan status Hormuz dan blokade, serta data stok AS berikutnya untuk menilai apakah koreksi hanya jeda volatilitas atau awal dari penyesuaian tren di atas US$100.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id