Emas Menguat Menjelang KTT Trump–Xi, Data AS Jadi Penahan
Harga emas (XAU/USD) bergerak naik pada perdagangan Eropa awal Kamis (14/05), ketika pasar menunggu hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Perhatian investor juga tertuju pada rilis data Retail Sales AS April yang dijadwalkan malam nanti.
Menurut laporan Bloomberg, kunjungan ini menjadi kunjungan kenegaraan pertama pemimpin AS ke China dalam sembilan tahun, dengan upaya kedua ekonomi terbesar dunia untuk menstabilkan hubungan di tengah konflik Iran. Ketidakpastian geopolitik biasanya memberi dukungan defensif bagi emas.
Di sisi perdagangan, AS dan China disebut mempertimbangkan kerangka yang memungkinkan masing-masing negara mengidentifikasi sekitar US$30 miliar barang yang tarifnya dapat diturunkan tanpa mengganggu kepentingan keamanan nasional. Jika sinyal stabilisasi hubungan membaik, sentimen risiko dapat berubah cepat dan ikut memengaruhi permintaan aset safe haven.
Namun, data inflasi produsen AS yang lebih panas menahan ruang penguatan emas. PPI AS naik 6,0% (YoY) pada April dari 4,3% pada Maret, melampaui ekspektasi 4,9%; secara bulanan, PPI naik 1,4% dari 0,7% dan juga di atas perkiraan 0,5%.
Kenaikan inflasi grosir yang didorong lonjakan harga minyak terkait ketegangan Timur Tengah memperkuat ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama. Emas kerap diuntungkan saat ketidakpastian meningkat, tetapi karena tidak memberikan imbal hasil, daya tariknya bisa berkurang ketika suku bunga tinggi.
5 poin inti:
- Emas menguat menjelang hasil KTT Trump–Xi di Beijing, dengan pasar menunggu sinyal kebijakan lanjutan.
- Data Retail Sales AS April menjadi katalis berikutnya untuk arah dolar, yield, dan sentimen risiko.
- AS–China mempertimbangkan kerangka pemangkasan tarif untuk sekitar US$30 miliar barang tertentu.
- PPI AS April melonjak 6,0% (YoY) dan 1,4% (MoM), jauh di atas perkiraan pasar.
- Inflasi yang lebih panas memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, berpotensi membatasi ruang kenaikan emas meski risiko geopolitik mendukung. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id