Emas Stabil, CPI AS Panas Tekan Prospek Cut
Harga emas cenderung stabil setelah data AS menunjukkan inflasi kembali dipercepat, menurunkan peluang Federal Reserve memangkas suku bunga tahun ini. Emas batangan diperdagangkan di sekitar US$4.718 per ons, setelah turun 0,4% pada Selasa.
Indeks harga konsumen AS pada April mencatat lonjakan tercepat sejak 2023. Setelah disesuaikan inflasi, upah riil dilaporkan turun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, menambah kehati-hatian pasar terhadap jalur disinflasi.
Kenaikan harga energi ikut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, dengan pasar menilai inflasi berisiko bertahan di level yang dapat membuat The Fed mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tahun depan. Lingkungan suku bunga tinggi umumnya menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi kebijakan domestik, Presiden Donald Trump meluncurkan proposal baru pekan ini untuk menekan harga, menargetkan daging sapi dan bensin di tengah lonjakan harga konsumen yang dapat menjadi beban politik bagi partainya di Kongres. Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1%, yang juga membatasi ruang penguatan emas.
Pada 06:53 waktu Singapura, emas spot tercatat US$4.718,19 per ons. Perak naik 0,4% ke US$86,84 dan disebut sudah naik hampir 18% sepanjang Mei, sementara platinum dan paladium relatif stabil. Fokus pasar berikutnya tertuju pada arah inflasi inti, pergerakan imbal hasil, dan sinyal The Fed terkait seberapa lama suku bunga perlu bertahan ketat.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id