Perak Volatil, CPI Panas dan Hormuz Jaga Tekanan
Perak spot (XAG/USD) bergerak volatil pada hari Selasa (12/5) dan terakhir berada di US$86,586/ons, atau sekitar 0,5% di atas penutupan sebelumnya, setelah sempat berfluktuasi di rentang harian US$83,057–US$87,208.
Dari sisi makro, data inflasi AS yang lebih panas memperkuat tema “higher for longer” dan menahan reli logam mulia. CPI April tercatat 3,8% yoy (di atas ekspektasi 3,7%) dan core CPI 2,8% yoy, memicu kenaikan yield Treasury, dengan yield 10 tahun berada di sekitar 4,46%.
Ketegangan geopolitik juga kembali menambah lapisan risiko melalui kanal energi. Trump menyebut gencatan senjata AS–Iran berada pada “massive life support,” sementara penutupan efektif Selat Hormuz menjaga pasar fokus pada gangguan pasokan. Brent berada di sekitar US$107,9–US$108,1/barel dan WTI sekitar US$102,5/barel, memperkuat kekhawatiran inflasi berbasis energi.
Kombinasi inflasi yang lengket, yield yang lebih tinggi, dan dolar yang cenderung menguat membuat ruang penguatan perak lebih terbatas meski ketidakpastian meningkat. Futures suku bunga juga menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada 2026 meningkat ke sekitar 35%, mengindikasikan pasar semakin berhati-hati terhadap skenario pelonggaran.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada arah negosiasi AS–Iran dan status Selat Hormuz, pergerakan minyak sebagai pendorong inflasi, serta respons yield dan dolar terhadap data inflasi lanjutan dan komunikasi pejabat The Fed.(arl)
Sumber: Newsmaker.id